Cari Blog Ini

Senin, 16 Januari 2023

Cara Mengatasi Permukiman Kumuh di Perkotaan



Dikutip artikel dari berjudul Slum transformation: a project to put temporary dwellings on the map, Indonesia telah bergulat dengan urbanisasi yang cepat dan menjamurnya daerah kumuh kota selama beberapa dekade. Sejak kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1945, kota-kota di Indonesia berkembang pesat. Populasi mereka saat ini tumbuh rata-rata 4,1% per tahun — tingkat urbanisasi tercepat di Asia. Namun pengeluaran untuk infrastruktur dan layanan dasar tetap tidak memadai. Sementara ekonomi tumbuh 5,8% per tahun pada pertengahan tahun 2000-an, investasi infrastruktur hanya tumbuh sebesar 3% setiap tahun. Pada tahun 2009, 23% penduduk perkotaan Indonesia masih tinggal di permukiman informal .

     Kata “kumuh” sering digunakan untuk menggambarkan permukiman informal di dalam kota yang memiliki perumahan yang tidak memadai dan kondisi kehidupan yang jorok dan menyedihkan. Mereka sering penuh sesak, dengan banyak orang berdesakan dalam ruang hidup yang sangat kecil.

Penyebab Permukiman Kumuh Perkotaan di Indonesia

Kampung-kampung kumuh telah ada sejak masa kolonial pada 1910-an, ini membuktikan bahwa kota di Indonesia memang tumbuh tidak terencana dan terstruktur dengan baik.

    Dikutip dari majalah Historia berjudul  “Dari dalam kampung kumuh ibukota”, program perbaikan kampung telah ada dan dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1984, di sekitaran kota-kota yang didominasi oleh tepian air. Pada tahun 1914, publikasi dari Westerveld mengungkapkan bahwa “di situ gubuk-gubuk sangat tidak layak disebut sebagai tempat tinggal manusia”, tulisan tersebut menyatakan permukiman kumuh di kota-kota Hindia belanda. Pada tahun 1920-an m kota-kota di Pulau Jawa dinilai memerlukan perbaikan, mulai dari segi sanitasi air bersih, penataan daerah padat, saluran pembuangan hingga Kesehatan dan penerangan.

Jumat, 01 Juli 2022

Lima Poin Utama Dalam Laporan IPCC Tentang Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim

Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim

Laporan terbaru dari The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melihat dampak, adaptasi, dan kerentanan yang terkait dengan krisis iklim, dan bagaimana upaya terbaru dalam mengurai kerentanan bencana global.

Kenali siapa IPCC Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang memiliki fokus pada perubahan iklim global. Laporan dokumen IPCC tentang Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim ini melaporkan temuan baru yaitu tentang hasil pemanasan global saat ini sebesar 1,1℃, hal ini memiliki dampak pada sistem alam secara natural dan pada kehidupan manusia. Laporan ini juga memberikan respon terhadap peningkatan pemanasan global yang bisa membantu adaptasi perubahan iklim global

Tentang IPCC Panel Antar Pemerintah Tentang Perubahan Iklim (IPCC)

 
Tentang IPCC Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) adalah badan PBB untuk menilai ilmu yang terkait dengan perubahan iklim dan perubahan iklim global di Dunia.

    Kajian tentang perubahan iklim makin banyak dan bervariasi, banyak ilmuan akademis dan instansi pemerintah sudah memiliki kepedulian tentang kerentanan kawasa, perubahan iklim, erosi pantai dan permasalahan perubahan suhu global. salah satu rujukan data berbasis hasil penelitian ilmiah yang bisa dijadikan rujukan oleh para peneliti di Indonesia adalah IPCC. 
Apa IPCC itu? 
    IPCC adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada tahun 1988. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). 
    Tugas awalnya, menurut Resolusi Majelis Umum PBB 43/53 tanggal 6 Desember 1988, adalah untuk menyiapkan tinjauan dan rekomendasi yang komprehensif sehubungan dengan status pengetahuan ilmu perubahan iklim; dampak sosial dan ekonomi dari perubahan iklim, serta strategi dan elemen respons potensial untuk dimasukkan dalam kemungkinan konvensi internasional tentang iklim di masa depan.
    Sejak 1988, IPCC telah memiliki lima siklus penilaian dan menyampaikan lima Laporan Penilaian, laporan ilmiah paling komprehensif tentang perubahan iklim yang diproduksi di seluruh dunia. Ini juga telah menghasilkan berbagai Laporan Metodologi, Laporan Khusus dan Makalah Teknis, sebagai tanggapan atas permintaan informasi tentang masalah ilmiah dan teknis tertentu dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), pemerintah dan organisasi internasional.
Tujuan dari IPCC 
    Tujuan dari didirikan IPCC adalah untuk menyediakan data berbasis laporan untuk pemerintah di semua tingkatan dengan dasar informasi ilmiah yang dapat mereka gunakan untuk mengembangkan kebijakan iklim diwilayahnya masing masing. 
    Laporan IPCC juga merupakan masukan penting dalam negosiasi perubahan iklim internasional. IPCC saat ini memiliki 195 anggota dari berbagai negara yang aktif dalam perubahan iklim. Tinjauan terbuka dan transparan oleh para ahli dan pemerintah di seluruh dunia merupakan bagian penting dari proses IPCC, untuk memastikan penilaian yang objektif dan lengkap serta untuk mencerminkan beragam pandangan dan keahlian. 
Laporan hasil IPCC
    Sejak pembentukan IPCC, setiap Laporan Penilaian telah dimasukkan langsung ke dalam pembuatan kebijakan iklim internasional. Laporan Khusus yang pertama, Pemanasan Global 1,5°C (SR15), diminta oleh pemerintah dunia berdasarkan Perjanjian Paris. Pada Mei 2019, IPCC menyelesaikan Penyempurnaan 2.019 – pembaruan pada Pedoman IPCC 2006 tentang Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Laporan Khusus tentang Perubahan Iklim dan Tanah (SRCCL) akan diselesaikan pada Agustus 2019 dan Laporan Khusus tentang Lautan dan Kriosfer dalam Iklim yang Berubah(SROCC) akan diselesaikan pada bulan September 2019. Laporan Penilaian Keenam (AR6) diharapkan akan diselesaikan pada tahun 2022 pada waktunya untuk pengambilan stok global pertama pada tahun berikutnya.

    IPCC menjadi rujukan para akademis di Dunia termasuk akademis di Indonesia dalam mengkaji perubahan iklim di Indonesia. Hasil laporan IPCC bisa dijadikan rujukan data basis riset untuk penelitian. Data laporan tentang dampak perkotaan yang mengalami perubahan iklim ditepi air sangat berdampak.
    Gas rumah kaca menjadi beberapa kajian penting yang dimasukkan dalam laporan perubahan iklim milik IPCC, pemanasan global dinilai merupakan periode penting untuk menurunkan temperatur dan mempersiapkan mitigasi bencana di kawasan tepi air.
    Kota pesisir dan pemukiman berada di garis depan perubahan iklim. Mereka adalah garis pertahanan pertama, menghadapi beberapa risiko iklim tertinggi. Tetapi mereka juga di mana pembangunan tahan iklim transformatif dapat terjadi. Di Indonesia perkotaan yang mulai terdampak perubahan iklim adalah Kota Semarang, Surabaya, Kudus dan DKI Jakarta, dimana kota kota ini sudah mengalami penurunan level tanah dan potensi kerentanan bahaya rob atau masuknya air laut kedalam kawasan perkotaan.

Kenaikan permukaan laut sebagai ancaman eksistensial
    Dampak ini akan terasa pada kota-kota pesisir di Indonesia. Kerusakan pada pelabuhan, kawasan industri  dapat membahayakan rantai pasokan global dan perdagangan maritim. Kenaikan permukaan laut merupakan tantangan adaptasi yang sangat kronis. Hal ini membutuhkan penanganan perubahan yang lambat secara paralel dengan meningkatnya frekuensi dan besarnya peristiwa ekstrem yang akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Banjir rob di Kota Semarang baru baru ini adalah salah satu contohnya. Pada skala waktu seratus tahun, proyeksi kenaikan permukaan laut merupakan ancaman eksistensial bagi banyak negara kepulauan, zona pesisir dataran rendah dan komunitasnya, infrastruktur, dan warisan budaya.

Kamis, 30 Juni 2022

Perbedaan Antara Permukiman Kumuh dan Permukiman Liar

bentuk permukiman liar di Indonesia
Salah satu bentuk permukiman liar di Indonesia

Permukiman liar dan kumuh telah terbentuk terutama karena ketidakmampuan pemerintah kota untuk merencanakan dan menyediakan perumahan yang terjangkau bagi segmen masyarakat perkotaan yang berpenghasilan rendah

Mengapa permukiman kumuh dan liar berkembang seiring dengan urbanisasi?

    Permukiman liar dan kumuh telah terbentuk terutama karena ketidakmampuan pemerintah kota untuk merencanakan dan menyediakan perumahan yang terjangkau bagi segmen masyarakat perkotaan yang berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, hunian liar dan kumuh menjadi solusi perumahan bagi masyarakat perkotaan berpenghasilan rendah ini.

    Perbedaan Antara Permukiman Kumuh dan Permukiman Liar jika dikaji lebih mendalam mengenai aspek prilaku sosial dan ketersediaan infrastrukur dari aspek stakeholder perkotaan. Banyak isu isu perkotaan yang relevan dan identik antara permukiman kumuh dan permukiman liar, namun parameter yang digunakan untuk mengidentifikasi permukiman liar dan permukiman kumuh cenderung berbeda.

berikut adalah artikel yang mengkaji Perbedaan Antara Permukiman Kumuh dan Permukiman Liar.

Permukiman Liar.

    Pengertian Permukiman liar adalah kawasan pemukiman di wilayah perkotaan yang dihuni oleh masyarakat sangat miskin. Orang-orang tersebut tidak memiliki akses ke tanah pribadi mereka sendiri oleh karena itu mereka berdiri tanah kosong dan melakukan klaim atas kepemilikan pribadi.

Menurut  (UN-Habitat 2003 ) permukiman liar adalah pemukiman rendah, yang telah berkembang tanpa hak legal atas tanah atau izin dari otoritas terkait untuk membangun, dan akibatnya, status ilegal mereka, infrastruktur dan layanan biasanya tidak memadai.

    (Bps.go.id, 2017) menjabarkan pengertian pemukiman liar adalah pemukiman yang dibangun secara tidak resmi (liar) pada lahan kosong di kota yang merupakan milik pemerintah maupun swasta, yang didiami oleh orang yang miskin karena tidak mempunyai akses terhadap pemilikan lahan tetap.

    Permukiman liar, secara umum didefinisikan sebagai suatu kawasan permukiman yang terbangun pada lahan kosong “liar” di kota baik milik swasta maupun pemerintah, tanpa hak yang legal terhadap lahan dan/atau izin dari penguasa yang membangun, didiami oleh orang sangat miskin yang tidak mempunyai akses terhadap pemilikan lahan tetap.(Kotaku, 2022)

Sifat pemukiman liar 

    Permukiman liar memiliki persepsi berbeda-beda ditiap tiap negara, pola kultur sosial dari tiap negera ini  yang membuat permukiman liar dikenal berbeda-beda. Mereka dikenal dengan nama lokal yang berbeda seperti Ranchos di Venezuela, Favelas di Brazil dan Bustee atau Jhuggi dan Jhopri di India, jembel/gembel di Indonesia.

Sifat Permukiman liar dijabarkan berikut ini:

  1. Sarana dan Prasarana Permukiman Liar. Jika melihat Permukiman liar di Indonesia, permasalahan prasarana dan sarana permukiman tidak menjadi permasalahan karena lokasi lokasi permukiman liar cenderung berada dekat dengan infrastruktur kota, dan hebatnya semua infrastruktur ini memberikan nilai nilai pada kawasan.
  2. Infrastruktur Permukiman Liar karena statusnya yang tidak legal memiliki pelayanan dan infrastruktur di bawah standar minimum. 
  3. Kultur sosial Permukiman Liar Sebagian besar rumah tangga perambah terbelakang secara sosial dan termasuk dalam kelompok berpenghasilan rendah.
  4. Status Legalitas Permukiman Liar Sebagian besar pemukiman liar migran tidak memiliki kepemilikan tanah.

bentuk permukiman kumuh di Indonesia
Salah satu bentuk permukiman kumuh di Indonesia

Pengertian Permukiman Kumuh

    Saat ini, istilah umum “kumuh” tidak berlaku lagi,  ini dikarenakan memiliki banyak konotasi dan makna dan jarang digunakan oleh orang yang lebih sensitif, benar secara politis, dan secara akademis. Istilah “perkampungan kumuh” digunakan dalam Laporan untuk menggambarkan berbagai pemukiman berpenghasilan rendah dan kondisi kehidupan manusia yang buruk. Permukiman kumuh adalah kawasan pemukiman yang secara sosial maupun fisik mengalami penurunan.

    permukiman kumuh adalah permukiman yang berdekatan di mana penghuninya dicirikan oleh status tempat tinggal yang tidak aman, akses yang tidak memadai ke air bersih, akses yang tidak memadai ke sanitasi dan infrastruktur dan layanan dasar lainnya, kualitas perumahan yang buruk, dan kepadatan penduduk (UN-Habitat 2003)

Sifat Permukiman Kumuh

    Di daerah-daerah dengan status permukiman kumuh, taraf kehidupan terkadang tidak terlalu buruk dari permukiman liar. Berikut sifat-sifat permukiman kumuh di Indonesia ;.

  1. Kondisi hunian kawasan kumuh memiliki kerentanan akan kesehatan dan kepadatan penghuninya.
  2. Infrastruktur permukiman kumuh terdapat fasilitas air dan listrik untuk digunakan sehari hari.
  3. Tempat tinggal di daerah kumuh memiliki fasilitas kamar, ruang, toilet dan kamar mandi yang kecil sehingga ruang berkumpulnya adalah teras atau gang.
  4. Tidak adanya privasi untuk setiap hunian masyarakatnya karena tingkat kepadatan yang tinggi.
  5. Permukiman kumuh sering menjadi sasaran bahaya kebakaran dan kerentanan kawasan lainnya. 
  6. Jumlah populasi yang pada penuh sesak sehingga tidak ada ruang untuk rekreasi.

    Keduanya perbedaan antara permukiman kumuh dan permukiman liar ini merupakan bentuk permukiman informal yang tidak direncanakan secara formal. Permukiman ini tumbuh secara liar dan tidak terkontrol diperkotaan. Pemerintah yang memiliki akses dan relokasi kawasan dinilai menjadi hal yang paling mudah dan realistis untuk dilaksanakan dengan waktu singkat.

Pengertian Perumahan Cluster dan Manfaatnya

 

Pengertian Perumahan Cluster dan Manfaatnya
Pengertian Perumahan Cluster dan Manfaatnya

Kebutuhan akan rumah tinggal pada daerah perkotaan urban dan sub urban di Pulau Jawa sangatlah tinggi, hal ini menarik minat investor lokal dan investor asing untuk terjun kedalam sekota Properti berbentuk perumahan cluster. Sebenarnya apa sih perumhan cluster dan manfaatnya?

Pengertian Rumah cluster

    Secara teori Rumah cluster adalah jenis properti pribadi unik yang terstruktur dalam kelompok yang relatif dekat satu sama lain, sering kali berbentuk rumah bertingkat, rumah semi-terpisah atau kadang-kadang bungalow. Keuntungan utama dari jenis properti tapak ini adalah Anda dapat memanfaatkan fasilitas gaya hidup yang biasanya Anda temukan di kondominium. Jika Anda ingin membeli rumah cluster tetapi Anda masih ragu apakah itu cocok, mari kita telusuri apa artinya tinggal di rumah cluster dan manfaatnya. 

Pengertian Perumahan Cluster

    Perumahan cluster adalah pengembangan di mana rumah-rumah dibangun berdekatan dalam komunitas atau komplek yang terjaga keamanan dan keberlanjutannya. Sisa lahan terbuka menjadi lahan bersama dalam pengembangan perumahan, memungkinkan ruang untuk fasilitas seperti gimnasium atau kolam renang. Karena rumah-rumah dikelompokkan secara dekat, biaya investasi untuk jalan, jalur utilitas dan pemeliharaan sektor publik dapat dikurangi. 

Manfaat Tinggal di Rumah Cluster

    Manfaat tinggal di rumah cluster sangatlah banyak, beberapa di antaranya termasuk eksklusivitas dan akses ke fasilitas bersama, keamanan, keramahan keluarga, keterjangkauan, dan potensi pengembalian investasi. Berikut ini 5 Manfaat tinggal diperumahan cluster dan penjelasannya;

1. Eksklusivitas & akses ke fasilitas bersama 

    Mendirikan residensi dalam pengembangan perumahan cluster seperti tinggal di desa mini karena komunitasnya yang terjaga keamanannya. Ini memancarkan rasa eksklusivitas dan pada gilirannya, menghadirkan ketenangan hidup. Karena rumah berada dalam jarak yang begitu dekat, Anda dapat membentuk hubungan yang substansial dengan tetangga Anda dan membangun semacam kepercayaan. 

    Perumahan cluster memiliki keistimewaan berbagi fasilitas gaya hidup dengan penghuni lain, seperti gym dan kolam renang. Namun, jenis kehidupan dengan kepadatan rendah ini berarti bahwa fasilitas ini dibagi di antara lebih sedikit orang dibandingkan dengan kondominium. Anda tidak perlu terlibat dalam perebutan ruang atau tempat parkir karena tersedia ditiap tiap hunian. 

2. Keamanan 24/7

    Manfaat ini tidak perlu diragukan lagi. Dengan menjadi bagian dari komunitas hidup yang dijaga, rumah cluster dilengkapi dengan keamanan 24/7. Sistem keamanan diterapkan secara tegas untuk membatasi akses dari publik, memberikan ketenangan pikiran bahwa properti dan keluarga Anda selalu aman. 

Anda Tidak perlu lagi khawatir tentang pencuri dan pembobolan rumah!

3. Cocok untuk keluarga dengan si kecil

    Perumahan cluster dilengkapi dengan taman bermain, ruang terbuka dan berbagai fasilitas ramah anak yang menggoda, memberikan anak-anak kebebasan untuk berlarian. Selain itu, rumah cluster biasanya merupakan bagian dari kotapraja yang menghadirkan fasilitas seperti sekolah dan taman terdekat, menjadikannya lebih ideal untuk keluarga yang membesarkan anak kecil. 

4. Lebih terjangkau

    Sebagian besar pemilik rumah membeli dengan mendapatkan harga relatif berbeda beda tergantung fasilitas yang ditawarkan dan lokasi perumahan cluster dari pusat kota. Perumahan cluster memiliki pangsa pasar berbeda beda ditiap tiap segmen pasarnya yang sangat luas.Jadi jika Anda ingin meningkatkan ke kehidupan yang lebih mewah di Indonesia, perumahan cluster adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan secara serius. 

5. Potensi pengembalian investasi

    Jika Anda ingin menjual rumah cluster Anda beberapa tahun ke depan, kami punya kabar baik untuk Anda!  Studi real estat telah menunjukkan bahwa perumahan strata-land cenderung memiliki harga lebih cepat dari waktu ke waktu dibandingkan dengan properti pribadi tradisional. 

Manfaat tinggal diperumahan cluster
Manfaat tinggal diperumahan cluster

        Sekarang setelah kita mengetahui berbagai manfaat tinggal di rumah cluster, jelas mengapa jenis properti tapak ini populer di kalangan pemilik rumah baru. Jadi, jika Anda menikmati clubhouse pribadi, area barbekyu, gym, dan banyak lagi, rumah cluster mungkin cocok untuk Anda! 

Berikut diatas adalah artikel berjudul Pengertian Perumahan Cluster dan Manfaatnya.

Rabu, 29 Juni 2022

Dampak Ketinggian Dari Permukaan Laut Terhadap Perkotaan


Dampak Ketinggian Dari Permukaan Laut
Dampak Ketinggian Dari Permukaan Laut

Sebuah studi baru the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate, yang diterbitkan di Nature Climate Change, telah melaporkan bahwa dunia akan kehilangan hampir setengah dari pantai berpasirnya yang berharga pada tahun 2100 saat laut bergerak ke darat dengan naiknya permukaan laut, apakah kehilangan ini akan melibatkan wilayah di Indoensia?.

    Bagi Perkotaan di wilayah pesisir, kenaikan permukaan laut merupakan krisis yang mengancam masyarakat pesisir karena tempat mereka berdomisili atau tinggalnya, mata pencaharian sebagai nelayan, dan ekosistem pesisir kita seperti habitat alami. Pantai berpasir terdiri sekitar sepertiga dari garis pantai dunia. Indonesia memiliki total garis pantai sepanjang 99.083 kilometer diprediksi akan mendapatkan pukuran keras seperti wilayah pesisir di Negara Australia, dengan panjang pantai 12.000 kilometer.

    Studi global  The world may lose half its sandy beaches by 2100. It’s not too late to save most of them. yang mencoba mengukur erosi pantai mendapatkan hasil bahwa emisi gas rumah kaca memberikan kekhawatiran, harapan terbaik untuk mempertahankan masa depan garis pantai dunia  adalah menjaga pemanasan global serendah mungkin dengan segera mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dampak Ketinggian Dari Permukaan Laut Terhadap Perkotaan

Kehilangan pasir dalam erosi pantai

    Dua masalah terbesar akibat naiknya permukaan laut adalah erosi pantai dan peningkatan frekuensi kejadian banjir pantai yang sudah sering terjadi dibeberapa perkotaan tepi pantai. Erosi selama badai dapat memiliki konsekuensi yang dramatis, terutama untuk infrastruktur pesisir. Kerusakan infrastruktur jebolnya ROB di Kota Semarang dan naiknya level permukaan tepi air diwilayah Kota Kudus adalah salah satu contohnya.

    Setelah badai seperti ini, pantai sering kali pulih secara bertahap, karena pasir dari perairan yang lebih dalam tersapu kembali ke pantai selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dan dalam beberapa kasus, beberapa dekade. Badai dramatis dan pasokan pasir jangka panjang membuat sulit untuk mengidentifikasi pergerakan pantai di masa lalu dari kenaikan permukaan laut.

    Jika kita terus mengeluarkan gas rumah kaca tingkat tinggi, percepatan ini akan berlanjut hingga abad ke-21 dan seterusnya . Akibatnya, pasokan pasir mungkin tidak mengikuti naiknya permukaan laut dengan cepat.

Proyeksi untuk skenario terburuk

    Laporan terbaru Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) , yang dirilis tahun 2021, skenario tentang emisi gas rumah kaca tertinggi telah mengakibatkan pemanasan global lebih dari 4°C  dan memiliki kemungkinan menaikkan permukaan laut antara 0,6 dan 1,1 meter pada tahun 2100.

    Prediksi dari hasil penelitian ini akan memproyeksikan pergerakan garis pantai rata-rata seluruh dunia atau global akan ada perubahan garis tepi pantai berkisaran 40 hingga 250 meter yang mampu menghilangkan tepi pantai berpasir. Kenaikan permukaan laut ini dinilai bertanggung jawab atas sebagian besar hilangnya pantai dibeberapa kepulauan Karibia menjadi lebih cepat selama dekade terakhir abad ke-21. 

    Bagaimana dengan Indonesia? jika menelisik kondisi pergeran tepi pantai di Australia selatan, maka pergerakan garis pantai ke darat diproyeksikan lebih dari 100 meter. Ini akan merusak banyak pantai wisata ikonik Australia seperti Bondi, Manly, dan Gold Coast. Kemudian adanya pergerakan di Australia utara diproyeksikan menjadi lebih besar, tetapi lebih tidak pasti karena tren garis pantai historis yang sedang berlangsung. Indonesia perlu menerbitkan prediksi yang sama tentang hal ini, karena pantai pantai kita diSelatan akan mengalami hal yang sama.


Erosi pantai akan sulit diprediksi

    Memproyeksikan kenaikan permukaan laut dan erosi pantai adalah hal sulit untuk dilakukan karena banyaknya faktor yang tidak bisa diukur secara presisi. Variabel untuk erosi pantai terlalu banyak dan luas, wilayah yang perlu diteliti tentu juga tidak ada batasnya. Contoh faktor aktivitas manusia, faktor temperatur udara, faktor konsumsi gas gas dan lainnya. 

    Untuk permukaan laut, masalah utama adalah memperkirakan kontribusi pencairan es Antartika atau pencairan es pada kutub selatan dan kutub utara yang meleleh dan mengalir ke laut, tentu saja permukaan laut akan berubah dalam skala regional karenanya dan mengakibatkan peningkatan jumlah pemanasan global.

    Erosi pantai yang dihitung dalam pergerakan garis pantai baru-baru ini yang digunakan untuk memproyeksikan faktor-faktor alam yang sedang berlangsung mungkin sudah dipengaruhi oleh naiknya permukaan laut, yang mungkin mengarah pada perkiraan permukaan laut tertinggi yang bisa diprediksi.

Implikasinya

    Terlepas dari prediksi dampak ketinggian dari permukaan laut ini, yang bisa kita lakukan adalah persiapan adaptasi dengan erosi pantai, mitigasi mitigasi tepi air, mobilisasi penduduk dari tepi air dan mengembalikan kondisi tepi air ke arah konservasi alaminya.

    Kita membutuhkan perencanaan yang tepat, jika masih ingin menikmati pantai dengan pasirnya. Ketidak pedulian kita terhadap erosi tepi pantai dan dampak aktivitas manusia pada tepi air juga bisa mengakibatkan bencana yang sudah kita alami di Indonesia seperti bencana ROB, Abrasi dan lainnya.