Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label kependudukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kependudukan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2022

Studi literatur tentang Ekologi Sosial Perkotaan di Asia Tenggara dengan Kota Chicago



Ekologi Sosial Perkotaan Johhny Miller 

Teori ekologi sosial perkotaan yang lebih dikenal sebagai mazhab Chicago muncul pada  tahun 2000-an, kenapa diberi nama mazhab Chicago, menurut beberapa literatur dikarenakan model kota Chicago yang tumbuh pesat dan memiliki permasalahan yang hampir mirip dengan perkotaan- perkotaan besar di Asia Tenggara.
 
Ekologi Sosial Perkotaan 

Permasalahan arus-arus migrasi dari berbagai etnis yang secara sporadis membuat kacau namun dibutuhkan Kota Chicago untuk mendukung pertumbuhan kota yang praktis menjadi tidak terkendali menurut para Sosiolog.
 
Struktur kota besar yang luas dan memiliki kecenderungan sifat heterogen dari berbagai golongan etnis, diferensiasi pekerjaan dan kriminalitas, hal ini muncul dari prinsip keteraturan dan integrasi nyata. Struktur- struktur yang terpilah-pilah pada kota Chicago dengan ciri-ciri hubungan Ekologi Sosial Perkotaan yang khas.

ideologi integrasi Amerika

Di bawah pengaruh ideologi integrasi Amerika, teori yang pada mulanya sangat luas ini semakin di desak ke arah menyesuaikan sistem lingkungan kota untuk dapat mengatur diri sendiri, di mana hubungan kota dengan lingkungan sosial masyarakat manusia dan ekonomi semakin diabaikan. 
 
Dalam hal ini diabaikan juga suatu kenyataan, bahwa urbanisasi yang pesat di kota-kota Amerika dengan susunan masyarakat kapitalis yang berkembang terjadi tanpa halangan. Kota terdiri dari wilayah alami dan wilayah sosial. Dan oleh arus migrasi asing yang tak cocok yang masuk ke dalam struktur wilayah sosial, saling menyesuaikan diri dan menjaga keseimbangan, kota kemudian berubah bentuk. 
 
Urbanisasi sebagai suatu cara hidup di mana pemusatan penduduk di dalam kota dianggap sebagai independen variabel Ekologi Sosial Perkotaan yang menentukan kemungkinan-kemungkinan hidup individu, serta interaksi antar individu.

Ini akhirnya menjurus ke penelitian masyarakat Amerika yang dipengaruhi metode-metode antropologi sosial. Wilayah-wilayah sosial dengan ciri-ciri sosial dan ekonomi kota tersusun menyerupai bentuk lingkaran bertingkat yang mengelilingi pusat. 

Teori lingkaran konsentris
.
Teori lingkaran konsentris menjadi topik yang paling sering dibicarakan karena relevansinya pada variabel-variabel pendukungnya yang membuat harga tanah; semakin dekat tanah dari pusat kota semakin mahal harganya, semakin jauh dari pusat kota semakin murah. 

Teori ini sangat relevan dengan kota-kota di Asia.
 
Analisa Ekologi Sosial Perkotaan pada kota-kota Amerika membatasi lebih lanjut permasalahan ekologi Sosial, tetapi memperluas basis data dengan memanfaatkan bahan-bahan sensus yang lebih luas. Mereka menganggap bahwa, segregasi etnis, status sosial dan budaya kota adalah variabel kunci ciri demografi.

Berbagai karya dapat menunjukkan, bahwa model konsentris untuk faktor struktur keluarga dan rumah tangga, model sektor untuk faktor status sosial dan model sel inti untuk faktor segresi etnis memberikan gambaran yang cukup jelas tentang Realita empiris ekologi Sosial kota-kota Amerika.
 
Dengan demikian struktur Ekologi Sosial Perkotaan dapat dibuktikan. 

Suatu penjelasan, mengenai asal mula terjadinya struktur ini, tidak dapat diberikan oleh wilayah sosial ini secara memuaskan. 

Struktur wilayah sosial kota di India mengacu pada model klasik di mana kasta-kasta tinggi berada pada pusat-pusat pemukiman, sedangkan status kasta yang lebih rendah semakin jauh dari pusat kota sesuai dengan urutan kastanya.

Jumat, 03 Agustus 2018

Slogan "Dari produksi massa ke konsumsi massa" Apakah Sudah Sesuai Dengan Perkotaan Indonesia


    Urbanisasi juga memberikan perubahan terhadap kebutuhan konsumen dan gaya hidup rumah tangga. Rumah tangga pedesaan dapat menutupi sejumlah komoditas oleh produksi in-house (produksi sendiri), sedangkan rumah tangga perkotaan cenderung membeli produk dan jasa.  Sejalan dengan urbanisasi, pembangunan ekonomi pada dasarnya mempengaruhi prilaku konsumen. Dalam hukum ekonomi klasik, besarnya penawaran senantiasa akan menyesuaikan pada besarnya permintaan. 

    Akan tetapi, pemanfaatan teknologi pada proses produksi mengakibatkan volume pengeluaran melebihi apa yang secara real menjadi permintaan masyarakat. Tantangan bagi para produsen kemudian adalah bagaimana produk-produk yang telah dibuat bisa habis dikonsumsi. Ini menghasilkan pembalikan hukum penawaran dan permintaan. Proses pemasaran barang-barang industri tidak lagi didasarkan pada besarnya volume permintaan, melainkan melalui metode tertentu diupayakan agar besarnya volume permintaan bisa sesuai dengan jumlah produk yang telah dibuat. 
    Salah satu metode yang ditempuh adalah melalui promosi dan iklan. Kekuatan promosi atau iklan bukan hanya sanggup membuat kebutuhan yang terpendam muncul ke permukaan melainkan, lebih dari itu ia dapat menciptakan kebutuhan semu yang dipaksakan dari luar dan tak ada hubungannnya dengan kebutuhan real seseorang.
    Ada dua hal utama yang terlibat dalam proses tersebut : konsumsi dan produksi. Hubungan antara produsen dan konsumen di dalam industri modern : barang tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan kebutuhan (semu) diciptakan agar barang bisa habis dikonsumsi. Ketidakmampuan masyarakat untuk membedakan kebutuhan real dari godaan kebutuhan semu yang ditawarkan oleh budaya industri, melahirkan banyak implikasi sosial dan kultural yang sangat kompleks. Dalam prakteknya di Indonesia, perilaku masyarakat ternyata menrefleksikan suatu bentuk dari ketakjuban masyarakat kita pada segala hal yang berasal dari luar negeri (Sudjoko,1977).

Senin, 11 Juni 2018

Critical Review : Dimensi Sosial , Spasial Kota

 


Critical review untuk materi makalah kelompok 5 yang berjudul Dimensi sosial spasial kota, materi ini tidak di presentasikan di hadapan penulis. Penulis berusaha mereview berdasarkan materi dari makalah yang dishare di grup email bersama anggota kuliah sosiologi perkotaan. Materi makalah itu di tulis oleh SYAMSUARDI, ADE GUNA SAPUTRA, sesama mahasiswa prodi manajemen perkotaan Universitas hasanuddin makassar

Paragraf pertama dari materi yang di paparkan adalah dimensi sosial spasial kota, di sini di jabarkan tentang konsep dasar sosiologi spasial, yang di tulis sebagai berikut , setiap manusia menepati ruang, kebutuhan akan ruang ini tergantung dari beberapa faktor antara lain ekonomi, sosial , pendidikan dan sebagainya. Di sini jelas di jabar kan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk hubungan sosialnya. Beberapa rujukan juga di tulis di paragraf ini , seperti menurut Schulz.1985 dan marti nuswantoro (2004;5). Di mana sistem spasil dapat di gambarkan saling keterkaitan antara man, space dan time. Kemudian di jelaskan juga tentang paragraf perubahan sosial dan ekonomi berdasarkan disparitas geografis di seluruh dunia.Penjelasan tentang 3 keunggulan kota hingga dominasinya di jelaskan dengan baik, namun kritik saya pada paragraf dan topik ini yaitu tidak di sediakannya perbandingan antar materi yang di jabar kan. Jika membahas kota atu pedesaan hingga materi perkembangan sosial alangkah baiknya di jabarkan contoh studi kawasan yang sudah aplikabel terhadap materi tersebut. Penjelasan teori lebih mudah di serap jika memiliki perbandingan yang jelas dan terstruktur.

Kemudian paragraf kedua, mengenai Akses Ke Ruang kota, di sini penulis makalah memberikan asupan materi tulisan yang terkesan mengambang karena hanya membahas kondisi kota secara garis besar, tanpa membahas akses ruang apa yang di maksud. Tidak jelas penjabaran mengenai akses ke ruang kota mengakibatkan tidak dapat di pahami bahwa tulisan ini tidak terstruktur secara rapi dan dapat di urutkan dari kalimat pertama hingga kesimpulan paragraf. Saya hanya menangkap materi penjebaran urbanisasi dalam penekanan ekspansi dan aggregasi. Perlu perambahan materi lebih luas dari daftar pus taka baru agar dapat di mengerti.

Paragraf ketiga penulis makalah memberikan judul “perubahan konsep kepemilikan tanah”. Materi ini sangat jelas menarik saya sebagai pembaca makalah. Saya berharap pada penjabaran baru mengenai konsep kepemilikan tanah terhadap kebutuhan ruang di perkotaan. Di paragraf ini hanya menjelaskan siapa saja temili tanah tapi tidak di jabarkan konsep apa kepemilikan tanah. Saya kurang mendapatkan visualisasi maksud dari konsep kepemilikan tanah terdapat ruang spasial perkotaan. Kemudian muncul topik algomerasi dan despritas wilayah, maksud pemakalah adalah menjelaskan konsep dasar sosiologi spasial , yaitu setiap mansa membutuhkan ruang berdasarkan ekonomi dan sosial pendidikan. Hal ini sama dengan penjelasan materi Dimensi Spasial sosial kota, sehingga tidak ada hal baru yang perlu d jabarkan di paragraf ini. Hal menarik terakhir dari makalah ini adalah penjelasan bab Sosiologi perkotaan, ini adalah paragraf terakhir dari makalah yang di tulis dari kelompok 5. Di sini di jelaskan ekspansi warga keturunan China di negara Malaysia yang datang berbarengan dengan kapitalisme modern, kemudian di jelaskan masyarakat pendatang tersebut menguasai semua sektor berbanding dengan masyarakat peribumi. Kemudian makalah tersebut menjelaskan bahwa ketidak-seimbangan sosial muncul karena masyarakat pendatang dari China menguasai daerah perkotaan, sedangkan pribumi pindah ke desa desa.

Kesimpulan Saya sebagai pereview makalah berjudul dimensi social spasial kota, mendapatkan sebuah kelimuan baru berjudul “KEBUDAYAAN URBANISASI” hal ini menjadi menarik karena pernulis menjelaskan ternyata ada sebuah kebudayaan urbanisasi, yaitu masyarakan desa yang memiliki nilai kekerabatan desa social culturenya di bawa ke kota kota dan mereka cenderung melestarikan karakter pedesaannya di mana rumah rumah di bangun rapat di atas tiang dan memelihara ayam di bawahnya. System social kebudayaan urbanisasi ini hampir mirip dengan istilah kebudayaan miskin, yang menjadi topic kelompok 4, atau materi dari saya.