Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Urbanisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Urbanisasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 April 2021

Membayangkan Kota Balikpapan dan Makassar tanpa Mobil Pribadi

Traffic Jam di Jakarta , sumber gambar

Kemacetan lalu lintas adalah salah satu masalah kronis di sebagian besar kota di Indonesia dan masalah ini semakin parah dari tahun ke tahun. Pertumbuhan pembangunan jalan di kota-kota di Indonesia jauh lebih lambat daripada tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan. 

9 hingga 11 persen per tahun adalah tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan dikota jakarta namun pertumbuhan pembangunan jalan hanya kurang dari 1 persen per tahun.

Niat  menyelesaikan kemacetan lalu lintas untuk waktu yang singkat dengan cara dibangun atau jalan dilebarkan.juga tidak akan memberikan opsi yang baik. Setelah beberapa tahun, jalan raya baru akan dipenuhi dengan lalu lintas yang tidak akan pernah ada jika jalan tol belum dibangun. 

Demikian pula, jalan yang dilebar mengisi dengan lebih banyak lalu lintas dalam beberapa bulan. Fenomena seperti ini disebut permintaan yang diinduksi. Karena permintaan yang ditimbulkan, tidak membangun jalan baru atau pelebaran jalan adalah solusi jangka panjang untuk kemacetan lalu lintas. 

Banyak hasil pembangunan yang bisa kita jadikan contoh, seperti pembangunan Jalan Tol Cipularang yang memiliki panjang 58 km dan menghabiskan biaya pembangunan 1,6 triliun rupiah pada masa konstruksi 2005. Disamping menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak, pembangunan Jalan Tol Cipularang juga meningkatkan nilai konsumsi dengan menggunakan 500 ribu ton semen, 25 ribu ton besi beton, 1,5 juta m3 agregat, dan 500 ribu m3 pasir.(Perencanaan et al., 2017)

Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi,  solusi untuk memberantas masalah kemacetan lalu lintas 

Kota Vauban, kota yang terletak diluar Freiburg lebih condong dekat dengan perbatasan negara Swiss dan Negara Perancis itu berpenduduk 5.500 jiwa. Kebiasaan para penduduk  kota sangat bergantung pada kendaraan transportas trem jika ingin kepusat kota Freiburg dan banyak dari mereka yang menggunakan mobil berjalan bersama-sama jika membutuhkan durasi perjalanan yang panjang.

Uniknya lagi Tujuh puluh persen keluarga di Kota Vauban tidak memiliki mobil. Mereka banyak berjalan kaki dan bersepeda ke sekolah, bank, restauran, pasar. 

Masih ada lagi yang unik, kota ini menyediakan akses berjalan yang mudah menuju alat transportasi trem dari setiap rumah. Pemerintah kota juga melakukan revolusi pada desain tempat tempat berkumpul agar lebik kompak dan mudah diakses untuk transportasi umum serta kebijakan mengurangi mengemudi.

Kota Vauban bisa kita jadikan contoh desain perkotaan di Indonesia seperti kota Balikpapan dan Makassar sebagai respons terhadap ancaman pemanasan global dan emisi gas rumah kaca. .

Saya bisa berpendapat bahwa desain Kota Vauban adalah perluasan pemikiran tentang Urbanisme Baru. 

Urbanisme Baru adalah konsep desain perkotaan yang mempromosikan beberapa prinsip utama perancangan kota yang dekat dengan alam dan lebih mementingkan nilai nilai kemanusian seperti walkability, interaksi sesama manusia dan konektivitas dalam penggunaan lahan campuran yang kepadatan tinggi bersifat vertikal. 

Ada banyak kota Urbanis Baru di beberapa negara, tetapi mobil masih memenuhi jalanan di kota-kota ini. Kota Vauban telah sukses dengan memberikan contoh ideal menciptakan kota tanpa mobil. 

Desain perkotaan yang akses mudah menuju ke tempat tempat transportasi umum, didesain sangat mendukung sistem transportasi umum kemudian dibuatkan standart walkable dan penggunaan lahan mixed-land-uses.(Peters, 2019)

Kendaraan pribadi atau Mobil di Indonesia masih merupakan barang mewah, banyak penduduk kota, terutama yang tinggal di kampung kota tidak memiliki mobil dan terbiasa hidup tanpa mobil. 

Jalanan (gang) di kota kecil di Indonesia didesain sangat sempit untuk kendaraan mobil dua arah dan peluang penduduk kampung untuk terbiasa berjalan kaki atau bersepeda ke tujuan mereka sangat besar jika ingin mengembangkan konsep walkability. 

Kampung kota adalah permukiman penduduk yang terletak di pusat daerah perkotaan dan relatif mudah diakses oleh transportasi umum. Berkaitan dengan konsep Urbanisme Baru, kota kampung di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip walkability dan kepadatan tinggi namun infrastruktur transportasi pubik harus mendukung aktivitas masyarakat.

Penduduk Kampung Kota memiliki pola kecenderungan untuk mengurangi permintaan mobil ketika lingkungan mereka dapat diakses oleh transportasi umum dan jalan-jalan di lingkungan mereka tetap sempit. 

Membayangkan Kota Balikpapan dan Makassar tanpa Mobil Pribadi tak akan mudah jika Perencana kota Balikpapan dan Kota Makassar tidak menghargai keberadaan kampung kota dalam hal mengurangi kebutuhan berkendara. 

Warga Kampung Kota perlu tetap kurangnya kebutuhan mengemudi untuk mengurangi tingkat kepemilikan mobil di daerah perkotaan Makassar terutama. Untuk perkembangan baru di daerah pinggiran, perencana Indonesia dapat meniru keberhasilan kota Vauban. 

Kebutuhan berkendara sangat dipengaruhi oleh desain perkotaan dan tingginya akses ke transportasi umum. 

Masuk akal untuk membayangkan dan tidak mustahil untuk menciptakan kota Makassar dan Balikpapan tanpa mobil pribadi. 

Senin, 11 Juni 2018

Critical Review : URBANISASI dan SUBURBANISASI

 


Tulisan ini berbentuk critical review dari paper berjudul Urbanisasi dan Suburbanisasi perkotan yang berjumlah 8 halaman. Makalah tersebut di tulis oleh 3 orang mahasiswi Prodi Manajemen Perkotaan untuk tugas kelompok 1 Sosiologi perkotaan, yang di presentasikan pada tanggal 29 september 2017.

Dalam makalah tersebut di bagi 4 bab yang menjelaskan berbagai macam permasalahan perkotaan akibat dari Urbanisasi dan efek suburbanisasi.

Pada bagian pertama pembahasan tentang Urbanisasi berlebih, tidak di jelaskan arti kata Urbanisasi berlebih dalam paragraph ini, susah untuk di pahami secara harfiah. Penulis makalah juga tidak dapat memberikan batasan batasan tentang makna urbanisasi berlebih. Banyak study tentang urbanisasi dan jurnal jurnal ilmiah yang sudah membahas mengenai cara menghitung atau formula yang bisa di adaptasikan oleh para peneliti untuk menghitung urbanisasi berlebih. Yaitu jurnal yang ditulis oleh Asep karsidi dan anotnius B wijanarto berjudul “Prediksi Pertumbuhan Urbanisasi menggunakan Model Regresi Logistik : studi Kasus di bogor, provinsi Jawa Barat , Indonesia”. Di dalam jurnal tersebut membahas topic prediksi pertumbuhan urbanisasi, sehingga urbanisasi berlebih bisa di prediksikan, berbeda pendapat dengan penulis makalah kelompok 1.

Pada bagian pertama juga di bahas 3 gejala sebuh kota tumbuh terlalu pesat. Pada point point tersebut tidak di jelaskan waktu atau moment bagaiman perkotaan tersebut tumbuh pesat, hanya di jabarkan ciri cirri penduduk kota yang miskin dan perkotaan menjadi tidak layak huni. Menurut Sujart (1989) factor perkembangan pesat sebuah kota adalah 3 faktor yaitu yang pertama adalah faktor manusia, kedua Faktor kegiatan manusia dan faktor pola pergerakan. Ketiga faktor tersebut menumbuhkan pesat masyarakat perkotaan, baik pertumbuhan urbanisasi berlebih tersebut.

Kesimpulan pada topic pertama ini adalah setiap pola pola pertumbuhan kota harusnya berdasarkan 3 faktor menurut Sujarto (1989) bukan faktor yang lain yang tidak relevan.

Pada topik kedua membahas Industrialisasi dan urban bias, menurut para penulis makalah : Kebijakan yang mengutamakan kota (urban Bias) akan memperlebar jurang pendapatan antara kota dan desa. Keadaan ini mendorong tetap berlangsungnya tingkat migrasi yang tinggi meskipun penganguran di kota meningkat terus. Di point ini penulis makalah sudah dengan gambling menjelaskan perkembangan industrialisasi terhadap kota kota. Bagaimana sebuah kota di tuntut untuk mengarahkan system permodalah dan keuangannya untuk di gelontorkan ke sector industry untuk menyerap tenaga kerja sebanyak banyaknya. Namun yang paling penting adalah krritikan tentang pola penyebaran dari lokasi industry tersebut tidak boleh di letakkan dalam satu system area, harus terbagi bagi dengan beberapa sector system sehingga industrialisasi tidak selalu mengakibatkan urbanisasi dan pengumpulan massa dalam satu tatanan perkotaan. Karena industrialisai termasuk teori yang di jabarkan oleh Sujarto (1989). Manusia dan kegiatan manusia mengakibatkan pola pergerakan ekonomi.

Menurut penulis industrialisasi merupakan satu satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebsan, kemudian muncullah kebijakan memprioritastkan industrialisasi. Penulis makalah ini terlalu cenderung menilah hal hal yang bersifat negatif dari industrialisasi untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat perkotaan dan urbanisasi. Saya pernah menyaksikan segua film berjudul “Manufactured Landscape” ini adalah segua film documentari tentang bagaimana masyarakat china membangun negara mereka dengan industrialisasi. Republik rakyat china berrevolusi ekonomi mereka dengan proses industriasi ruang dan kehidupan perkotaan dan pedesaan. Masyrakat pedesaan yang memproduksi peralatan peralatan konsumsi masyarakat modern, kemudian masyarkat perkotaan yang menjualkan ke luar negeri, masyarkat perkotaan juga yang menyiapkan desain atau ide ide untuk produk industrialisasi. Kemudian pemerintah china mendorong hasil produksi industri di ekspor dengan berbagai kemudahan.

Sehingga kesimpulan untuk topik kedua ini, tidak preleva jika para penulis makalah tersebut menyebut industrialisasi megakibatkan perkotaan menjadi banyak pengagguran.

Topik ketiga dari makalah kelompok satu membahas tentang dari produksi massa ke konsumsi massa. Di sini di jabarkan bagaimana gaya hidup rumah tangga masyarakat perkotaan tidak sanggup menyediakan komoditas sendiri(produksi sendiri) berbera dengan masryakat pedesaan. Ketidak mampuan menciptakan kebutuhannya sendiri ini yang memancih massa untuk melakukan pergerakan.

Topik ke empat adalah urbanisasi dan suburbanisasi di indoneisa, dalam presentasi powerpoint yang disampaikan oleh kelompok satu, materi urbanisasi dan suburbanisasi nampak paling di kuasa dan paling dominan, sehingga materi yang lain tidak tersampaikan dengan baik. Mobilisasi penduduk menjadi kata yang paling dominan dipermasalahan urbanisasi dan suburbanisasi, bagaiaman kelompok satu menjelaskan bagaiaman membuaka lahan baru untuk tumbuhnya suburbanisasi namun tidak di sertai oleh efek di kemudian hari bahwa lahan yang di buka di tepi jalan akan deruba fungsi dari harga murah menjadi harga mahal, daya beli masyarakat pun akan deruba di daerah suburban yang di lewati jalur utama kendaraan. Potensi daerah simpul simpul kota yang saling mengikat tidak di jabarkan dan di orientasikan bagaimana cara menghadapai simpul simpul tersebut, apakah mendukung daerah suburbanisasi atau malah merugikan daerah kawasan baru.

Kesimpulan dari critical review dari saya adalah, penulis makalah seharusnya lebih mengkonsep topik topik menjadi satu judul yang lengkap mewakili dari empat topik bahasa. Contoh Urbanisasi dan suburbanisasi berlebih mendorong sistem indrustrialisasi dan peralihan massa di perkotaan. Perlu di perbanyak kutipan dari berbagai literatur yang menyampaikan teori urbanisasi, seperti teori urbanisasi di negara berkembang (Ever dan Korff ,2002), unsur utama dari sektor informal (mcgee dan yeung, 1978), teori perbedaan struktur masyarakat (Smelser,1963), konseptual urbanisasi berdasarkan aspek aspek (Nia K pontoh, 2008)