Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2018

Banjir dan program Revitalisasi Drainase besar besaran di Kota Balikpapan

jalan mt haryono yang terendam (google image)
Periode bulan bulan november hingga januari adalah saat saat bergemuruh bagi para pengemudi kendaraan roda empat di kota Balikpapan. Kota Ini sering di Landa banjir di beberapa titik. Permasalahan itu lebih besar lagi muncul di periode akhir tahun di mana curah hujan sangat tinggi.

Saat ini kota balikpapan sudah berupaya maksimal dengan berbagai macam strategi untuk mengatasi berbagai macam bencana banjir ini agar segera teratasi. Kadang kita memiliki slogan yang agak naif yaitu " itu bukan banjir, hanya genangan air saja" . Bisa di pahami bahwa slogan tersebut muncul karena keputusasaan para pengelola kota terhadap banjir ini.

beberapa waktu lalu pemerintah kota balikpapan mengundang ahli banjir dari belanda, beberapa solusi mulai di terapkan dengan pemerintah kota ingin membebaskan lahan lahan yang berada di tepi sungai ampal, seperti pemukiman di jalan beller. revitalisasi kawasan gunung malang yang merupakan langganan banjir di permukaan jalannya sudah di lakukan saat ini. beberapa titik mengalami penggalian hingga diletakkan gorong gorong di sepanjang jalur hingga ke tepi pantai.

Revitalisasi sungai sangat baik jika kita berorientasi terhadap buangan air hujan ketika hujan lebat tiba. Mengenali titik titik genangan juga bisa menjadi masukan daerah daerah mana yang layak untuk di beri drainase baru.

Tetapi saya sedikit memberikan masukan, bahwa pemerintah kota juga bisa menerapkan dengan ketat mengenai kebijakan koefisien dasar bangunan dan koefisien luas bangunan agar setiap pemukiman atau rumah wajib memiliki daerah resapan. Rumah tidak seharusnya membuang air hujan yang jatuh di kavling mereka dengan segera ke riol kota,atau drainase.

Setiap hunian harus menyediakan tanah resapan berupa taman seluas sisa KDB yang di tetapkan di kawasan hunian tersebut. tidak boleh masyarakat membuat atap seluas kavling mereka, karena atap tersebut akan memberikan beban tambahan terhadap sistem riol kota sehingga meluap air ke permukaan jalan. akibat dari ketidak pahaman masyarakat tersebut membuat banjir menjadi sebuah komoditi tahunan yang tidak akan terselesaikan.

saya mengajak pembaca blog ini, atau masyarakat untuk memahami beban kerja pemerintah kota dengan memberikan hak kota berupa KDB untuk resapan, biarkan bumi kita menikmati tetesan air hujan demi anak cucu kita. (cieey...)

apakah kita menyadari sebagai masyarakat kota, bahwa kita juga berperan aktif terhadap potensi banjir tersebut.

Senin, 05 Maret 2018

Balikpapan Bisa Belajar Sistem Pembuangan Hujan Di Kota Saitama, Jepang

 

G can saitama , sumber gambar


BANJIR SEBAGAI DAMPAK DEFORESTASI DI KALIMANTAN TIMUR Para pelaku pembangunan baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, pada umumnya masih memperlakukan lingkungan hidup sebagai barang bebas (Free Commodity). 

Akibatnya pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan tidak dilakukan secara bijaksana. Sumber daya alam dieksploitasi secara maksimal tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan hidup dan daya dukung lingkungan yang ada.

Banjir sering menjadi momok kota Balikpapan, jika di kota ini terjadi banjir karena pengupasan lahan besar besaran untuk digunakan sebagai pertumbuhan pemukiman dan perekonomian tanpa memperhatikan resapan.

kota Samarinda, pengupasan lahan besar besaran karena konsumsi produksi batu bara berlebihan mengakibatkan pendangkalan sungai Mahakam dan potensi lahan air yang tidak bisa mengalir.

Kota Saitama adalah ibu kota dan paling padat penduduknya kota dari Saitama Prefektur , Jepang . Wilayahnya menggabungkan bekas kota Urawa , Ōmiya , Yono dan Iwatsuki . kota Saitama memiliki luas 2217,43kmw dengan total penduduk 1.2juta  (februari 2016).

Untuk menghindari banjir pada musim angin topan, kota Saitama di Jepang memiliki sistem selokan badai yang mengesankan. 

Pada tahun 1992 dimulainnya pembangunan beton raksasa dengan ketinggian 65m, lebar 32m yang terhubung pada 6,4 km terowongan bawah tanah, terowongan ini berada dibawah tanah 50m. 

Kota ini terletak 20 hingga 30 km di utara pusat Tokyo, kira-kira di pusat Dataran Kanto. Terletak di sekitar pusat Prefektur Saitama, kota ini secara topografi terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi, kebanyakan kurang dari 20 m di atas permukaan laut, tanpa pegunungan atau perbukitan di dalam batas kota. 

Sisa wilayah lainnya sebagian besar berada di Ōmiya Plateauberbaring di arah utara-selatan. Tersebar di wilayah ini, sungai-sungai besar mengalir ke selatan, hampir sejajar satu sama lain.

Ini juga memiliki tangki raksasa: tinggi 25,4m, panjang 177m dan lebar 78, dengan 59 kolom beton . Struktur yang mengesankan ini dibuka untuk wisatawan. Lebih banyak gambar dan video di bawah ini. Pastikan untuk memeriksa truk yang sedang diangkat melalui saluran pembuangan

suatu yang besar dan megah itu pastilah sangat menarik, kali ini saya mendapatkan berita tentang sebuah terowongan pembuangan air raksasa di jepang, tepatnya di kota Saitama. Sebuah solusi raksasa tentang bagaimana masyarakat jepang menyelesaikan permasalah perkotaannya secara modern dan luar biasa cerdas.

G-Cans adalah sistem drainase terbesar di dunia. Sistem drainase ini bertujuan jelas untuk menghindari banjir, membuang air sebanyak banyaknya kedalam kanal. Hal ini bisa di terapkan di kota kota banjir seperti balikpapan dan Samarinda.

Metode kerja dari G-Can ini yaitu menerima semua aliran air dari semua sudut kota, kemudian ditampung dalam terowongan bawah tanah. Terowongan ini akan memiliki ujung dilaut lepas, namun terowongan ini berfungsi untuk menampung jumlah debit air yang besar jika badai datang.

Berbagai ahli mendaulat G-Cans sebagai sebuah keajaiban teknologi. karena skala besarnya dan daya tampung dari canal tersebut. sebuah maha karya yang layak untuk di apresiasi dunia. 

pemerintah Tokyo, mengungkapkan bahwa sistem canal ini mampu mengurai dua pertiga wilayah yang biasanya tekena genangan saat hujan turun atau badai.

so. apakah kota Balikpapan dan Samarinda akan menciptakan Canal penampungan air, atau membuat Bendali bendali saja, namun masih sering Banjir.