Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Permukiman Kumuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permukiman Kumuh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2018

Perkampungan Kumuh, Apakah ada di Kota Balikpapan?

foto kepadatan pemukiman di bontobulaeng, balikpapan (image doc. pribadi)
Tulisan in saya termaktub ketika saya sedang menjelajahi situ Un-Habitat, dan mencari perhatian lebih mereka terhadap pemukiman kumuh. Apakah ada regulasi baru dan resolusi baru tentang kota tanpa kumuh.

    Kota Balikpapan menurut penulis bisa di kategorikan sebagai kota yang tumbuh secara urban sprawl, terlihat dari pemanfaatan ruang kota dan pola penyebaran penduduk kota Balikpapan yang tidak rapat di tepi kota, dan penuh sesak di pusat kota.
    menurut Ahang (2000) Fenomena perluasan kawasan perkotaan yang tidak poroporsional ke dalam lahan yang belum di kembangkan. kemudian menurut Bruegman (2005) mendefinisikan Urban sprawl sebagai "kepadatan rendah tersebar, pembangunan perkotaan tanpa perencanaan tata ruang publik skala besar atau regional yang luas". Pembukaan lahan besar besaran untuk pemukiman dan menjadi lahan tidak produktif menjadi perkembangan kota ini, seperti Nechyba & Walsh (2004) berpendapat bahwa penyebaran pembangunan baru di saluran saluran terpencil terpisah dari daerah lain oleh tanah kosong.
Penyebaran Pemukiman Perkotaan Balikpapan ke arah karang joang, lemaru , batakan dan transat bertujuan untuk memberikan akses pemukiman layak bagi warga kota. Namun Infrastruktur listrik, air dan sarana prasaran menjadi problem.
    Menurut penulis tipe pembangunan ini termasuk jenis pembangunan yang mubazir, baik dari segi ekonomi dan segi sosial, dan berpotensi menjadi kawasan kumuh baru, nanti akan saya bahas di akhir tulisan ini. Lima karakteristik PBB mendefinisikan sebuah perkampungan kumuh , pertama Akses yang tidak memadai ke air yang aman/bersih , kedua Akses yang tidak memadai ke sanitasi dan infrastruktur, kemudian ketiga Kualitas struktural perumahan yang buruk , keempat Berdesak-desakan padat terakhir Status perumahan yang tidak resmi.

Hak atas perumahan yang layak (sebagai komponen hak atas standar hidup yang layak) diabadikan dalam banyak instrumen hak asasi manusia internasional. Yang paling menonjol di antaranya adalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (pasal 25.1).
Konferensi PBB Kedua tentang Pemukiman Manusia (Habitat II) pada tahun 1996 memanfaatkan momentum ini. Selanjutnya, Komisi Pemukiman Manusia (hari ini Dewan Pemerintahan UN-Habitat) mengadopsi resolusi 16/7 tentang 'realisasi hak asasi manusia untuk perumahan yang layak' pada Mei 1997.
    Pemukiman yang tidak resmi atau tidak memiliki surat surat resmi banyak kita temui di Kota Balikpapn, kawasan atas air/pemukiman kumuh atas air, dan pemukiman di atas lahan negara yang sudah berpuluh tahun di tempati. Menurut Un Habitat jenis pemukiman ini di kategorikan sebagai pemukiman kumuh karena tidak mendapatkan kepastian status hunian. Selaras dengan konsep urban sprawl yang mana pembukaan kawasan baru yang mini infrastruktu dan sarana seperti listrik, air bersih dan jalan akses yang layak dengan mudah di kategorikan sebagai pemukiman kumuh. potensi kumuh bisa di analisa dengan kondisi fisik pemukiman ini. drainase air kotor yang di buang secara seporadis, pipa pipa air yang di taruh bertumpuk tanpa aturan. Nilai ekonomi dan nilai sosial yang berpotensi merugi dari anggaran pemerintah adalah menyediakan infrastruktur menuju kawasan yang jauh dari pusat kota menuju pemukiman tersebut. Sungguh ini juga menjadi dilema bagi pemerintah yang wajib menyediakan infrastruktur tersebut.

Tujuan artikel ini 

adalah untuk mendukung upaya pemerintah, masyarakat sipil dan lembaga-lembaga hak asasi manusia nasional untuk mewujudkan hak atas perumahan yang layak seperti yang dijelaskan dalam deklarasi hak asasi manusia internasional dan ditegaskan kembali dalam Agenda Habitat. yang menyatakan bahwa

“Dalam konteks keseluruhan dari pendekatan yang memungkinkan, Pemerintah harus mengambil tindakan yang tepat untuk mempromosikan, melindungi dan memastikan realisasi hak atas perumahan yang lengkap dan progresif”

Kamis, 19 Juli 2018

Kajian Kampung Jembel di Indonesia




Tipe tipe kampung jembel
Istilah kampung jembel atau slum itu mencakup berbagai ragam perumahan buruk dan juga di pakai untuk memperincikan suatu lingkungan tertentu. Istilah slum dipergunakan juga untuk gedung usang di beberapa wilayah kota.

Kehidupan di perkampungan jembel ini tidak selalu menandakan kemerosotan , mungkin saja merupakan tahap pertama dalam peralihan dari kehidupan gelandangan menuju beruamah tangga atau pun sebagai tempat peralihan dari kehidupan gelandangan menuju rumah tangga atau beralih ke tempat yang lebih baik. Munculnya perkampungan ini karena tidak ada bangsa manapun yang mampu menyediakan perumahan yang wajar dengan harga yang terjangkau oleh kaum buruh rendah.

Pembuangan limbah dari perkampungan Jembel
Hal hal paling gawat mempengaruhi kesehatan para pemukim penduduk jembel adalah Pembuangan tinja manusia, yang sering di lepaskan dalam parit yang di gunakan bersma sama oleh puluhan keluarga atau dibiarkan membusuk di antara gubuk gubuk. Tidak tersedianya saranauntuk menyingkirkan tinja dari tempat pemukiman penduduk , senantiasa menimbulkan kemungkinan infeksi bagi orang yang sehat, oleh kotoran dari orang yang sakit dapat menjadi peyebaran penyakit.

Kepadatan berlebihan di Perkampungan jembel
Tidak ada kebebasan pribadi dalam perkampungan jembel, kepadatan di setiap pondok yang di tinggali oleh 1 keluarga saja bisa terdiri dari beberapa manusi.ketidak adanya kebebsan pribadi, memungkinkan ketularan penyakit dan kehancuran lingkungan sosial. Menarik nafas saja sukar.

Beberapa akibat Sampingan Sosial
Kita beranggapan bahwa dampak kehidupan di perkampungan jembel itu sama saja di mana aman, atau kita beranggapan bahwa pemukiman buruk itu sebagai penyebab tunggal dari kelainan sosial. Sekalipun perumahan buruk itu turut menyebabkan kejahatan kaum remaja, namun pengaruh tersebut dapat saja di kurangi dengan unsur unsur pelestarian, termasuk pengaruh dari orang tua, pergaulan, nilai nilai etika yang mengimbangi dan penertiban yang bersifat membangun di lingkunagn pemukiman dan sekolahan.