Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Perkotaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkotaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2018

Kota Berbasis Kualitas hidup di lingkungan perkotaan

kota berbasis lingkungan, sumber gambar

Kualitas hidup adalah persepsi individual terhadap posisinya dalam kehidupan, dalam konteks budaya, sistem nilai dimana mereka berada dan hubungannya terhadap tujuan hidup, harapan, standar, dan lainnya yang terkait. Masalah yang mencakup kualitas hidup sangat luas dan kompleks termasuk masalah kesehatan fisik, status psikologik, tingkat kebebasan, hubungan sosial dan lingkungan dimana mereka berada (World Health Organization, 2012)
     Jan Gehl menjelaskan ada 5 teori untuk mengetahui kualitas hidup sebuah perkotaan. kualitas hidup yang berefek pada usia, daya hidup dan kenyamanan kota. teori tersebut adalah kota tanpa mobil, angkutan umum yang adil, wisata panca indra, budaya kehidupan publik dan menghindari infrastruktur berbasis bensin. teori ini banyak di terima oleh pengelola kota kota di eropa dan menerapkannya di berbagai kota seperti kopenhagen, amsterdam, zurich , berlin dan dublin. kota ini sudah merubah orientasi pembangunan dari modern menjadi kualitas kehidupan.

    Menurut penulis, kota yang sakit adalah kota yang tidak memperhatikan kualitas hidup penduduknya. kita bisa artikan kota besar di Indonesia lebih berorientasi pembangunan yang parsial dan lebih mengutamakan ekonomi dan komersial dari pada kualitas hidup. Penulis mencoba menaplikasikan teori jan gehl tersebut menjadi 5 paragraf yang mudah di pahami pembaca.
    Pertama menurut gehl mobil bukanlah cara cerdas untuk berkeliling kota di populasi 750.ooo ini. jika separuh saja masyarakat kota balikpapan memiliki mobil pribadi, anda bisa bayangkan kesibukan ketika mereka mengantar anak sekolah. hilir mudik ke satu tempat dengan mobil sendiri sendiri. berjalan kaki dan bersepeda adalah cara paling cepat untuk keliling kota.
    Kedua adalah perhatian angkutan umum harus lebih adil, maksudnya adalah masyarakat yang tinggal di karangjoang, manggar, lamaru, batakan, dan di wilayah suburban kota balikpapan tidak perlu menengeluarkan biaya besar untuk transportasi ke pusat kota. sesuaikan dengan pendapatan dan kemampuan keuangan mereka. Perlu adanya transportasi publik yang berbiaya murah untuk tempat tempat tertentu.
    Ketiga berikan pengalaman wisata berdasarkan panca indra wisatawan. Misalnya Mata atau pemandangan harus lega dan bersih dari polusi penglihatan, pendengaran juga tidakboleh muncul dari suara bising klakson, knalpot,mesin mobil atau pemandangan kotor tentang sampah, parit, dan coret coretan vandalisme.
    Keempat membudayakan kehidupan publik sebagai kultur masyarakat balikpapan. bibit untuk itu sudah sering ktia temukan ketika car free day, event lokal hingga acara pameran pembangunan yang di isi oleh mobil mobil yang di dandani sedemikian rupa. nampak bergerombolan masyarkat datang  menyaksikan. Bibit kehidupan sosial publik sudah ada di Kota ini namun belum tersedianya titip titip point landmark plaza publik.
    terakhir adalah berhentilah membangun infrastruktur berbasis bensin murah, yah negara kita bergelombang gelombang mebangun tol di mana mana, namun itu semua tidak di barengi oleh inrastruktur umum berbasis kereta, bus umum, kereta gantung. hal ini mengakibatkan masyarakt membeli mobil terlalu banyak. konsumsi bensin saat ini memang murah, dan ketika bensin sudah tidak murah lagi apa yang akan di lakukan.


kesimpulan 

artikel ini adalah untuk menciptakan kota yang hidup, perlu memperhatikan kualitas hidup masyarakatnya, tidak perlu menyediakan

Perkampungan Kumuh, Apakah ada di Kota Balikpapan?

foto kepadatan pemukiman di bontobulaeng, balikpapan (image doc. pribadi)
Tulisan in saya termaktub ketika saya sedang menjelajahi situ Un-Habitat, dan mencari perhatian lebih mereka terhadap pemukiman kumuh. Apakah ada regulasi baru dan resolusi baru tentang kota tanpa kumuh.

    Kota Balikpapan menurut penulis bisa di kategorikan sebagai kota yang tumbuh secara urban sprawl, terlihat dari pemanfaatan ruang kota dan pola penyebaran penduduk kota Balikpapan yang tidak rapat di tepi kota, dan penuh sesak di pusat kota.
    menurut Ahang (2000) Fenomena perluasan kawasan perkotaan yang tidak poroporsional ke dalam lahan yang belum di kembangkan. kemudian menurut Bruegman (2005) mendefinisikan Urban sprawl sebagai "kepadatan rendah tersebar, pembangunan perkotaan tanpa perencanaan tata ruang publik skala besar atau regional yang luas". Pembukaan lahan besar besaran untuk pemukiman dan menjadi lahan tidak produktif menjadi perkembangan kota ini, seperti Nechyba & Walsh (2004) berpendapat bahwa penyebaran pembangunan baru di saluran saluran terpencil terpisah dari daerah lain oleh tanah kosong.
Penyebaran Pemukiman Perkotaan Balikpapan ke arah karang joang, lemaru , batakan dan transat bertujuan untuk memberikan akses pemukiman layak bagi warga kota. Namun Infrastruktur listrik, air dan sarana prasaran menjadi problem.
    Menurut penulis tipe pembangunan ini termasuk jenis pembangunan yang mubazir, baik dari segi ekonomi dan segi sosial, dan berpotensi menjadi kawasan kumuh baru, nanti akan saya bahas di akhir tulisan ini. Lima karakteristik PBB mendefinisikan sebuah perkampungan kumuh , pertama Akses yang tidak memadai ke air yang aman/bersih , kedua Akses yang tidak memadai ke sanitasi dan infrastruktur, kemudian ketiga Kualitas struktural perumahan yang buruk , keempat Berdesak-desakan padat terakhir Status perumahan yang tidak resmi.

Hak atas perumahan yang layak (sebagai komponen hak atas standar hidup yang layak) diabadikan dalam banyak instrumen hak asasi manusia internasional. Yang paling menonjol di antaranya adalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (pasal 25.1).
Konferensi PBB Kedua tentang Pemukiman Manusia (Habitat II) pada tahun 1996 memanfaatkan momentum ini. Selanjutnya, Komisi Pemukiman Manusia (hari ini Dewan Pemerintahan UN-Habitat) mengadopsi resolusi 16/7 tentang 'realisasi hak asasi manusia untuk perumahan yang layak' pada Mei 1997.
    Pemukiman yang tidak resmi atau tidak memiliki surat surat resmi banyak kita temui di Kota Balikpapn, kawasan atas air/pemukiman kumuh atas air, dan pemukiman di atas lahan negara yang sudah berpuluh tahun di tempati. Menurut Un Habitat jenis pemukiman ini di kategorikan sebagai pemukiman kumuh karena tidak mendapatkan kepastian status hunian. Selaras dengan konsep urban sprawl yang mana pembukaan kawasan baru yang mini infrastruktu dan sarana seperti listrik, air bersih dan jalan akses yang layak dengan mudah di kategorikan sebagai pemukiman kumuh. potensi kumuh bisa di analisa dengan kondisi fisik pemukiman ini. drainase air kotor yang di buang secara seporadis, pipa pipa air yang di taruh bertumpuk tanpa aturan. Nilai ekonomi dan nilai sosial yang berpotensi merugi dari anggaran pemerintah adalah menyediakan infrastruktur menuju kawasan yang jauh dari pusat kota menuju pemukiman tersebut. Sungguh ini juga menjadi dilema bagi pemerintah yang wajib menyediakan infrastruktur tersebut.

Tujuan artikel ini 

adalah untuk mendukung upaya pemerintah, masyarakat sipil dan lembaga-lembaga hak asasi manusia nasional untuk mewujudkan hak atas perumahan yang layak seperti yang dijelaskan dalam deklarasi hak asasi manusia internasional dan ditegaskan kembali dalam Agenda Habitat. yang menyatakan bahwa

“Dalam konteks keseluruhan dari pendekatan yang memungkinkan, Pemerintah harus mengambil tindakan yang tepat untuk mempromosikan, melindungi dan memastikan realisasi hak atas perumahan yang lengkap dan progresif”

Minggu, 22 Juli 2018

Pemulung sebagai Atribut Pendorong Kebersihan Kota

artikel ini saya tulis karena saya mendapatkan sebuah percakapan penting dengan seorang pemulung di jalan Mt haryono tepatnya selepas tugu beruang Damai, ketika #jalankakipulang dari kantor pada hari rabu kemarin 180july 2018. 


Seperti biasa saya berjalan kaki dari jalan yos sudarso hingga ke Mt haryono dalam melalui jalan gang gang sempit hingga jalur primer kota Balikpapan. Kebiasaan ini saya lakukan sejak melanjutkan study manajemen perkotaan di pasca sarjana Unhas tahun 2017.

pada hari itu saya bertemu dengan 2 pendorong gerobak penuh dengan muatan plastik dan barang bekas. yang pertama saya temukan di jalan ahmad yani tepat di depan soto quin abduh, namun saya tidak sempat berbicara dan mendokumentasikannya. karena saya sedang menyeberang jalan raya ahmad yani.

kemudian ketika bertemu dengan pendorong gerobak yang kedua saya tidak berlama lama untuk mengajaknya berbicara atau sekedar menyapanya. betapa kagetnya ternyata pendorong gerobak ini adalah ibu ibu berusia 40an tahun, hampir sama dengan pendorong gerobak dijalan ahmad yani tadi.

berikut percakapan saya dengan ibu ;
saya ; "ibu dorong apa ini? dan dari mana?
ibu ;"barang bekas mas, plastik dan besi besi"
s; uda jalan dari mana saja ibu?
i; sehabis dzuhur, keliling kota, sampai ahmad yani rapak
s; wah jauh juga ibu berjalan, mau di bawa ke mana ini?
i; saya jual ke jalan Beller (sekarang berganti nama jadi jalan mayor polisi Zainal Arifin)
s; ini kan sudah magrib bu, masih kuat berjalan hebat!
i ; iya , sudah setiap hari mas saya kerja ini.
s; saya duluan yah bu, ibu hebatt menunjukkan jempol ke ibu itu.
i; hanya mengangguk, sebari berhenti sebentar.

saya lanjutkan perjalan pulang jalan kaki saya ke Masjid Al Aman samping Kolam renang Mulawarman.

dengan berpedoman pada undang undang republik indonesia nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dan perturan pemerintah nomor 18 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya. Dinas Kebersihan , pertamanan dan permakaman kota Balikpapan sudah berusaha mengurangitarget timbunan sampah sebesar 5% dengan cara reduce, reuse and recycle.

pada tahun 2016 jumlah penduduk mencapai 761.495 jiwa dengan jumlah timbunan sampah mencapai kurang lebih 218.860,95 ton pertahun, kemudian jumlah sampah yang di angkut ke tempat pembuangan akhir hanya 126.671,63 ton pada tahun 2016.

penurunan jumlah sampah yang di timbun ke TPA sangat tergantung dari program 3R tersebut, saya mewakili masyarakat kota perlu memberikan apresiasi bagi dinas KPP untuk kelancaran program bank sampah dan program 3R.

kota Balikpapan sudah menerapkan bank Sampah untuk menunjang kebersihan kota, dengan berbagai keuntungan dalam hal kesehatan untuk masyarakatnya.

kembali ke ibu pendorong gerobak tersebut, beliau juga berperan srta membantu kebersihan kota balikpapan, bukan pekerjaan hina untuk memungut sampah produktif untuk di jual dan menjadi bahan daur ulang. sehingga apresiasi saya menjadi berlipat untuk para pemulung dan DKPP.

referensi artikel :
laporan 2017, dkpp http://balikpapan.go.id/uploaded/pengumuman/2017/lakip_2017/Dinas%20Kebersihan,%20Pertamanan,%20Dan%20Permakaman.pdf

Apakah Pedagang kaki lima layak mendapatkan ruang kota?


    Kami sering menemukan masalah yang terkait dengan pedagang kaki lima (pedagang kakilima) di banyak kota di Indonesia. PKL melakukan kegiatan mereka di trotoar, taman kota, jembatan penyeberangan, dan bahkan di jalan-jalan. Mereka sering dilihat sebagai mata-luka dan kegiatan yang tidak diinginkan. Dalam banyak kasus, pihak berwenang secara paksa mengusir pedagang kaki lima atas nama tata kota dan kebersihan. PKL sering menolak penggusuran dan menuntut ruang untuk kegiatan mereka. Apakah pedagang kaki lima layak mendapatkan ruang kota untuk kegiatan mereka? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin memperkenalkan konsep informalitas perkotaan sebagai kerangka kerja untuk memahami pedagang kaki lima yang terjadi di daerah perkotaan.
    Konsep informalitas perkotaan dimulai dari dikotomi antara sektor formal dan sektor informal yang dibahas pada awal tahun 1970-an. Sektor informal adalah fenomena yang sangat umum yang terjadi di negara-negara berkembang. Persentase sektor informal di Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah dan Afrika Utara dan Asia Selatan berkisar antara 30-70 persen dari total angkatan kerja. Di Indonesia, menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari 2008, 73,53 juta dari 102,05 juta (72%) pekerja bekerja di sektor informal.
    Meskipun diskusi telah dilakukan selama lebih dari tiga puluh tahun, tidak ada konsensus mengenai definisi yang tepat dari sektor informal (Maloney, 2004). Pemahaman tentang sektor informal lebih sering dikaitkan dengan dikotomi antara sektor formal dan informal. Sektor informal sering dipahami dari dokumen yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (1972). ILO mengidentifikasi setidaknya tujuh karakter yang membedakan kedua sektor ini: (1) mudah masuk, (2) mudah memperoleh bahan mentah, (3) sifat kepemilikan, (4) skala kegiatan, (5) penggunaan tenaga kerja dan teknologi, (6) persyaratan keahlian, dan (7) deregulasi dan persaingan pasar.

Dikotomi sektor formal dan informal sering mengabaikan pentingnya sektor informal sehubungan dengan ruang perkotaan. Sektor informal sering terpinggirkan di ruang perkotaan, meskipun sektor informal menyumbang 70% dari pekerjaan perkotaan.
    Ananya Roy dan Nezar Alsayyad (2004) memperkenalkan konsep kawasan perkotaan informal sebagai logika yang menjelaskan proses transformasi perkotaan. Mereka tidak menekankan pada dikotomi sektor formal dan informal tetapi pada pemahaman bahwa sektor informal adalah bagian dari struktur ekonomi masyarakat. Informalitas perkotaan adalah mode urbanisasi yang menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi dan ruang di daerah perkotaan. Informalitas Inis bukan hanya domain bagi orang miskin tetapi juga penting untuk populasi kelas menengah.
    Dua teori perkotaan, Chicago School of Urban Sociology dan Los Angeles School of Urban Geography telah mendominasi wacana pembangunan perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Kedua teori urban didasarkan pada fenomena yang terjadi di kota-kota urban di Amerika Serikat. Sekolah Chicago Sosiologi Urban, yang dikembangkan pada awal 1920-an menjelaskan perkembangan migrasi perkotaan yang dikendalikan dengan menghasilkan pola ekologis, seperti invasi, kelangsungan hidup, berasimilasi, adaptasi dan kerja sama. Sekolah Los Angeles School of Urban Geography dimulai pada akhir 1990-an untuk menjelaskan perkembangan metropolitan Los Angeles di era postmodern yang menekankan pentingnya globalisasi ekonomi dan politik ekonomi kapitalis.
      Dominasi kedua teori perkotaan dalam wacana pembangunan perkotaan mempengaruhi perencanaan tata ruang kota di negara-negara berkembang. Praktik perencanaan yang mereplikasi teori-teori perkotaan melalui dikotomi negara maju dan berkembang menjadi ada di mana-mana. Ini menjadi masalah ketika replikasi seperti itu tidak lagi relevan dengan fenomena urban yang unik di negara berkembang, seperti sektor informal.
    Masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan PKL sebagian besar disebabkan oleh kurangnya ruang perkotaan untuk PKL. Perencanaan tata ruang kota yang tidak didasarkan pada pemahaman konsep informalitas perkotaan akan cenderung mengabaikan permintaan ruang untuk mengakomodasi sektor informal, termasuk pedagang kaki lima. Selain itu, dominasi Sekolah Chicago dan Los Angeles dalam praktek perencanaan kota di Indonesia telah berkontribusi pada kurangnya ruang untuk sektor informal di daerah perkotaan. Ruang-ruang di daerah perkotaan didominasi oleh sektor perkotaan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ruang untuk sektor informal terpinggirkan.
    Penerapan konsep informalitas perkotaan dalam memahami fenomena PKL akan mengubah perspektif kita tentang keberadaan PKL di daerah perkotaan. PKL bukanlah kelompok yang gagal masuk ke sistem ekonomi di daerah perkotaan. Mereka adalah salah satu moda dalam transformasi urban yang tidak dapat dipisahkan dari ekonomi urban. Mereka adalah salah satu komponen ekonomi perkotaan yang akan menguntungkan pembangunan perkotaan.
    Fenomena pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia harus ditafsirkan dalam konteks transformasi perkotaan. Penerapan konsep informalitas perkotaan dalam praktek perencanaan perkotaan akan mengalokasikan lebih banyak ruang perkotaan untuk PKL dan mengintegrasikannya dengan sektor formal. Praktek perencanaan kota di Indonesia juga tidak boleh meniru sekolah Chicago dan Los Angeles, tetapi memodifikasinya dan memperhitungkan fenomena urban yang unik termasuk sektor informal. Sektor informal, termasuk pedagang kaki lima, berhak mendapatkan lebih banyak ruang perkotaan untuk mengakomodasi kegiatan mereka yang merupakan bagian dari sistem ekonomi perkotaan.
    Undang-undang perencanaan tata ruang baru 26/2007 telah menetapkan pentingnya sektor informal di daerah perkotaan, tetapi penerapan undang-undang baru ini belum sepenuhnya ditegakkan. Penegakan penuh dari undang-undang perencanaan tata ruang baru dan pemahaman konsep informalitas perkotaan diperlukan untuk memastikan ketersediaan ruang perkotaan bagi PKL.


Referensi:
Organisasi Perburuhan Internasional. (1972). Pekerjaan, Pendapatan dan Kesetaraan: Strategi untuk Meningkatkan Ketenagakerjaan Produktif di Kenya. Jenewa: ILO.
Maloney, William. (2004). Informalitas Revisited. Pembangunan Dunia 32 (7): 1159-1178
Roy, Ananya dan Nezar Alsayyad. (2004). Informalitas Perkotaan: Perspektif Transnasional dari Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Lanham, MD: Lexington Books.

Sabtu, 21 Juli 2018

Perubahan Iklim dan Pembangunan Perkotaan

Perubahan Iklim dan Pembangunan Perkotaan Sebagai salah satu negara tropis dengan kawasan hutan besar, Indonesia diharapkan memainkan peran penting dalam menyerap emisi karbon dioksida yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Pemerintah Indonesia menetapkan target untuk mengurangi emisi karbon sebesar 26 persen pada tahun 2020 melalui banyak cara termasuk perluasan hutan baru sebanyak setengah hektar per tahun, perluasan hutan masyarakat sekitar 4 juta hektar, dan penurunan panas bintik-bintik sekitar 20 persen.(www.bappenas.go.id)

Perubahan iklim adalah iklim  suhu udara dan curah hujan yang mengalami perubahan secara signifikan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer.

Penurunan emisi karbon dioksida untuk mengatasi pemanasan global bukan hanya tanggung jawab mereka yang bekerja di hutan, tetapi juga dari semua warga negara. Penduduk kota juga memainkan peran penting dalam mengurangi emisi karbon dioksida. 

Aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar fosil adalah penyumbang besar dalam pemanasan global. Meningkatkan efisiensi penggunaan listrik seperti penerangan, pendinginan atau penggunaan alat elektronik dan daur ulang adalah beberapa cara yang dapat ditawarkan untuk mengatasi pemanasan global.

Wilayah Hijau
Perkotaan Pembangunan kota dapat juga ditujukan untuk mengatasi pemanasan global. Daerah hijau perkotaan sering dikorbankan dalam pembangunan perkotaan untuk mengikuti pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat. Jakarta, misalnya, pada tahun 1965 memiliki area hijau sebanyak 30% dari total wilayah Jakarta, dan proporsi area hijau telah menurun menjadi 9,3% pada tahun 2009. 

Penurunan area hijau juga terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. Kawasan hijau merupakan komponen penting dari pembangunan perkotaan, tidak hanya untuk menciptakan kota yang lebih indah dan hijau, tetapi juga untuk menyerap karbon dioksida dari aktivitas manusia khususnya transportasi.

Kawasan hijau juga dapat memainkan peran mitigasi dampak perubahan iklim seperti banjir dan kenaikan permukaan laut. Area hijau bisa menjadi daerah tangkapan air untuk mencegah banjir. Di daerah metropolitan, seperti kota Makassar, kerentanan wilayah terhadap pemanasan global akan lebih tinggi karena penurunan tanah yang disebabkan oleh eksploitasi air bawah tanah yang luas.

Perluasan area hijau harus menjadi salah satu prioritas Perubahan Iklim dan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. 
Cita-cita kawasan hijau di daerah perkotaan adalah 30% dari total wilayah perkotaan sebagaimana diatur dalam UU Penataan Ruang 26/2007. 
Angka ini tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk mencapai keduanya. Akhir-akhir ini, pemerintah Jakarta menutup 27 SPBU yang terletak di area hijau dan mengubahnya menjadi area hijau. Keputusan seperti itu menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah Jakarta untuk memperluas area hijau dan dapat diikuti oleh kota Makassar dan kota lain di Indonesia atau bahkan di dunia.

Mass Transit dan Urban Sprawl
Pembangunan perkotaan di daerah metropolitan seperti Makassar perlu mengembangkan transportasi massal seperti kereta bawah tanah dan monorail. Transportasi publik saat ini seperti busway dan transportasi umum lainnya perlu memperluas layanan dan berintegrasi dengan kebutuhan dan keterjangkauan penduduk. 

Mengubah kendaraan pribadi menjadi transit massal atau transportasi umum lainnya akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Penurunan penggunaan bahan bakar per kapita dalam transportasi akan secara signifikan mengurangi emisi karbon.

Perencana kota perlu menghindari urban sprawl. Pemekaran perkotaan tidak efisien, tidak hanya dalam penyediaan infrastruktur tetapi juga dalam konsumsi bahan bakar. Penyebaran urban akan menghasilkan jarak perjalanan yang lebih lama bagi penduduk dan mengkonsumsi lebih banyak bahan bakar. Daerah perkotaan harus direncanakan sebagai kota yang padat. 

Daerah pinggiran kota harus diarahkan sebagai daerah mandiri dan itu akan mengurangi perjalanan penduduk pinggiran kota ke daerah dalam kota.

berikut adalah artikel berjudul Perubahan Iklim dan Pembangunan Perkotaan.

Mempromosikan Jalur Sepeda di Balikpapan berbasis Komunitas

jalur khusus pesepeda Jakarta, sumber gambar


Pada tanggal 22 Mei 2011, Jakarta menetapkan tonggak menuju kota sehat dan layak huni. Pemerintah Jakarta telah meresmikan jalur sepeda khusus Jakarta untuk pertama kali  yang membentang 1,5 kilometer dari Ayodia Park hingga Blok M di Jakarta Selatan. 

Jakarta terlambat mempromosikan jalur sepeda. Jakarta telah fokus dalam mempromosikan penggunaan kendaraan mobil pribadi dengan membangun infrastruktur jalan tol dalam kota yang lebih tinggi dan mengabaikan pentingnya perjalanan non-motoris di kota.

Kota-kota di negara-negara maju di dunia telah mengembangkan jalur-jalur sepeda khusus selama bertahun-tahun, mereka telah mengintegrasikan sistem jaringan transportasi dengan jalur sepeda. 

Paris, Amsterdam, Paris, Kopenhagen hingga Barcelona telah dikembangkan sebagai kota-kota ramah-sepeda. 

Jaringan rute sepeda yang ekstensif serta aman, promosi kebijakan pro-pengendara sepeda, dan budaya sepeda telah terjadi di kota-kota tersebut. 

Pengendara sepeda di kota-kota tersebut bukanlah penduduk kelas dua dan dapat mengendarai sepeda dengan aman sebagai moda utama untuk perjalanan sehari-hari ke tempat kerja mereka. 

Kopenhagen bisa dijadikan contoh kota ramah-sepeda, di negara Eropa di mana sekitar sepertiga tenaga kerja di kota ini pulang-pergi ke kantor dengan sepeda.

Konsep Bike Lane dan Traffic Lights, awalnya diunggah oleh Mikael Colville-Andersen . Beberapa orang Kopenhagen dalam perjalanan pulang pada sore hari, di sepanjang jalan tersibuk di ibu kota, Hans Christian Andersen's Boulevard. 

Lebih dari 20.000 sepeda per hari di bentangan ini dan persimpangan ini adalah salah satu yang tersibuk di kerajaan. 

Perhatikan kelimpahan lampu lalu lintas, untuk keamanan ekstra. Pengendara sepeda di sini memiliki tiga lampu untuk dilihat. Bermanfaat jika Anda terjebak di belakang antrean sepeda 50-75. Anda akan selalu dapat melihatnya

Kota Jakarta melangkah pertama kali dengan meresmikan jalur sepeda khusus yang membentang dari Ayodia Park hingga Blok M, bisa kita tanggapi sebagai sebuah solusi untuk kemacetan lalu lintas di Jakarta. 

Langkah Pemerintah Jakarta dalam mengembangkan jalur sepeda khusus ini dapat membuka wacana kota Jakarta yang akan memiliki sistem transportasi terintegrasi. 

Jalur khusus sepeda harus menjadi bagian dari sistem jaringan transportasi kota dan dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas warga di kota. 

Keterhubungan jalur khusus sepeda dengan sistem transportasi massal lainnya sangat penting.

Penting juga untuk dicatat bahwa jalur khusus sepeda pertama tidak diprakarsai oleh pemerintah kota Jakarta tetapi Komunitas Sepeda Indonesia yang menyumbang sebanyak 500 juta rupiah untuk membangun jalur sepeda. 

Jalur khusus sepeda tidak dapat digunakan sebagai tempat parkir dan jalur untuk pengendara sepeda motor. Beberapa hari setelah peresmian jalur sepeda yang membentang dari Ayodia Park ke Blok M, jalur itu diliputi oleh mobil pribadi, minibus pubis dan kendaraan roda tiga bajaj. Sejumlah mobil pribadi juga parkir di jalan (The Jakarta Post, 27 Mei 2011). 

Penegakan hukum yang ketat wajib hadir demi terwujudnya jalur khusus sepeda tidak akan menjadi cara yang efektif untuk mengurangi kesengsaraan lalu lintas Jakarta dan hanya akan menjadi inisiatif yang gagal.

Saya berharap bahwa peresmian jalur sepeda khusus di Jakarta bisa menjadi tonggak sejarah bagi stake holder perkotaan untuk merubah pola pikir tentang bagaimana kualitas hidup diperkotaan yang berlebih dalam mengatasi masalah lalu lintas. 

Sikap sikap tidak mengutamakan pengendara mobil pribadi dapat mendorong lebih banyak penduduk kota untuk beralih ke pengendara sepeda hingga transportasi massal.

Membangun ketahanan perkotaan di Indoensia

Ketahanan Perkotaan di Indoensia (sumber IKUPI)

 

Ketahanan Perkotaan telah dengan cepat menjadi istilah populer di banyak disiplin termasuk disiplin perencanaan kota. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ketahanan semakin banyak digunakan dalam kebijakan dan strategi perkotaan. 
Istilah Ketahanan Perkotaan
Ketahanan tampaknya cepat menggantikan keberlanjutan. Konsep keberlanjutan telah berada di garis terdepan dalam wacana kebijakan perkotaan sejak Komisi Brundtland Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan konsep pembangunan berkelanjutan pada tahun 1987. Keberlanjutan bertujuan untuk meminimalkan dampak aktivitas diperkotaan terhadap lingkungan. Keberlanjutan membuat lingkungan kembali seimbang, tetapi perilaku lingkungan sulit diprediksi. 

Kita hidup di lingkungan dengan rasa ketidakpastian dan ketidakpastian yang tinggi. Ada banyak peristiwa lingkungan yang berada di luar kendali kita dan kita perlu bertahan hidup ketika lingkungan menyerang kita.

Mengacu pada CS Holling yang menciptakan ketahanan pada makalahnya di tahun 1973 tentang ekologi sistem. 

Ketahanan kata berasal dari resilire, Latin untuk memantul. 

Kemudian Yayasan Rockefeller menugaskan tim untuk mengembangkan tinjauan pustaka komprehensif ketahanan dan merilis laporan pada September 2011. Tinjauan ini berfokus pada tiga kerangka ketahanan termasuk ketahanan untuk objek, sistem dan sistem adaptif.

Ketangguhan untuk sistem adalah mempertahankan fungsi sistem jika terjadi gangguan. Sementara itu, ketahanan untuk sistem adaptif adalah kemampuan untuk bertahan, pulih dari, dan mengatur kembali sebagai respons terhadap krisis (Martin-Breen dan Anderies 2011). 

Bagaimana dengan ketahanan perkotaan? 

Saya mendefinisikan ketahanan perkotaan sebagai kemampuan masyarakat perkotaan untuk pulih dari bencana dan gangguan dengan cara yang berkelanjutan, menjaga kualitas hidup yang baik dan meningkatkan kapasitas penanggulangannya untuk mengurangi kerusakan dari bencana atau gangguan yang tidak dapat diprediksi. Masyarakat urban yang tangguh lebih siap menghadapi ketidakpastian dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah.

Komponen Ketahan Nasional
World Economic Forum merilis Laporan Resiko Global 2013 dan memasukkan bagian ketahanan dalam laporan tersebut. Ini adalah Laporan Risiko Global Pertama dari Forum Ekonomi Dunia yang membahas risiko global dari perspektif ketahanan. 

Laporan ini mengidentifikasi lima komponen ketahanan nasional dan saya percaya lima komponen ini berlaku untuk konteks perkotaan.
  1. Komponen ketahanan perkotaan, ketahanan, redundansi, sumber daya, respon dan pemulihan merupalan komponen ketahanan perkotaan. Ketangguhan mengacu pada kemampuan untuk menyerap dan menahan bencana dan gangguan.
  2. Redundansi, istilah redundansi adalah kelebihan kapasitas untuk memungkinkan pemeliharaan fungsi inti jika terjadi bencana dan gangguan. 
  3. Ketertarikan melibatkan kemampuan untuk beradaptasi dan merespon fleksibilitas terhadap bencana dan gangguan dan mengubah dampak negatif menjadi positif. 
  4. Respons berarti kemampuan untuk memobilisasi dengan cepat dalam menghadapi gangguan. 
  5. Pemulihan perkotaan adalah kemampuan untuk mendapatkan kembali normalitas setelah bencana atau gangguan. 
Membangun ketahanan perkotaan mengacu pada pengembangan lima komponen ini dalam sistem perkotaan termasuk bangunan, infrastruktur dan masyarakat.

Model membangun komunitas perkotaan yang tangguh
Model yang dimaksud termasuk mode mitigasi dan mode adaptasi. 
  • Model mitigasi mengacu pada intervensi yang ditujukan untuk mengurangi risiko dan bahaya jangka panjang dan juga menghindari dampak bencana atau gangguan yang tidak dapat dikelola. 
  • Model adaptasi melibatkan penyesuaian yang ditujukan untuk memoderasi kerusakan jika terjadi bencana atau gangguan atau mengeksploitasi peluang bermanfaat dan juga mengelola dampak yang tidak dapat dihindarkan dari bencana atau gangguan. 
Membangun ketahanan perkotaan bukanlah program jangka pendek. Ini adalah program jangka panjang dan membutuhkan koordinasi di antara para pemangku kepentingan di kota termasuk lembaga pemerintah, perusahaan swasta, dan penduduk untuk mempersiapkan diri, bertahan dan pulih kembali dari bencana, gangguan dan tekanan kronis.

Tantangan Seratus dari 100 Kota Tangguh
Pada Mei 2013, Rockefeller Foundation mengumumkan Tantangan Seratus dari 100 Kota Tangguh. Yayasan Rockefeller menerima hampir 400 aplikasi dari kota-kota di seluruh dunia termasuk kota-kota yang berusia ribuan tahun ke kota-kota besar yang berurusan dengan urbanisasi yang cepat. 

33 kota yang dipilih termasuk Semarang, Melbourne, New York City, San Francisco, Los Angeles, New Orleans, Ramalah, Rotterdam, Roma, Rio de Jainero, Mexico City dan Dakar. 

Kota-kota ini telah menerapkan program inovatif dan menunjukkan hasil yang positif untuk ketahanan. Sebagai contoh, kota Semarang telah mampu untuk menangani bencana rob atau meluapnya air laut karena pasang dan perubahan iklim. Demikian pula, New York City telah belajar pelajaran berharga dari Badai Sandy dan mengembangkan program untuk melindungi penghuninya dari banjir pesisir dan kenaikan permukaan laut yang dapat menyebabkan model yang dapat ditiru untuk kota-kota pesisir lainnya.

Program inovatif Ketahanan Perkotaan
untuk meningkatkan ketahanan dan pelajaran yang dipetik dalam pemulihan dari bencana dan bencana dari kota-kota terpilih harus diperkenalkan ke kota-kota lain untuk kemungkinan replikasi termasuk ke kota-kota di Indonesia. 

Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia harus bersiap untuk kemungkinan bencana atau gangguan dan harus mengembangkan sistem untuk pulih lebih kuat dari bencana atau gangguan. Semarang dipilih karena memiliki program inovatif untuk mengatasi banjir flush dan banjir pasang termasuk panen air hujan, perkebunan rumput vetiver, rehabilitasi mangrove dan sistem peringatan dini untuk banjir dan penyakit yang ditularkan vektor. 

Kota-kota lain di Indonesia harus belajar dari Semarang dan kota-kota terpilih lainnya dan memiliki sistem di tempat untuk memulihkan, bertahan atau bahkan berkembang di tengah gangguan.

Daftar Isi ;
  • The Rockefeller Foundation. (2020). 100 Resilient Cities - The Rockefeller Foundation. [online] Available at: https://www.rockefellerfoundation.org/100-resilient-cities/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • ‌Ikupi.org. (2015). IKUPI – Inisiatif Kota untuk Perubahan Iklim. [online] Available at: https://ikupi.org/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • dinustek | Dwi Febry (2017). Bappeda Kota Semarang. [online] Semarangkota.go.id. Available at: https://bappeda.semarangkota.go.id/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • Martin-Breen, P., & Anderies, J.M. (2011). Resilience: A Literature Review.
  • Uci.edu. (2022). C.S. Holling and Ecological Resilience: Ecological Resilience: UCI Regional Climate Resilience Project: ‘Deconstructing Resilience’. [online] Available at: https://canvas.eee.uci.edu/eportfolios/13884/Ecological_Resilience [Accessed 26 Jun. 2018].

‌

‌

‌

Mengenal Tokoh dan Teori Abraham Maslow Dalam Presfektif Perkotaan

Abraham Maslow Dalam Presfektif perkotaan
Abraham Maslow Dalam Presfektif perkotaan

Siapa Abraham Maslow
Abraham Maslow adalah seorang tokoh yang memberikan pengaruh atas teori kepribadian. Ia juga berpengalaman dalam dunia praktis. ia memilih mengambil jurusan Psikologi di Universitas Wisconsin dengan dua pertimbangan yaitu ketertarikannya pada masalah kemanusian, dan ketidaksabarannya untuk segera mewujudkan sesuatu secara nyata. 

Tokoh tokoh yang memberikan inspirasi kepada abraham maslo adalah Thomas Jefferson, Whitehead, Henri Bergson, Abraham Lincoln, Thomas Jefferson,  Spinoa dan Plato. Prof. Harry Harlow adalah akademis yang membimbingnya selama di Universitas Winconsin. Setelah itu, ia pergi ke Universitas Columbia dan bertemu dengan Alferd North, disinilah ia kemudian memperlajari psikologi Freud.
Pembaca bisa menganalisis buku berjudul A Theory of Human MotivationBy A. H. Maslow  untuk mengetahui bagaimana pemikiran dari Abraham Maslow.
Pemikirannya tetang aktualisasi diri muncul ketika abraham maslow bertemu Ruth Bendict yaitu seorang antropolog. Dengan Psikologi berorientasi pada humanistiknya, Maslow berusaha membawa psikologi menuju fokus manusia yang terintegrasi secara penuh. Dimana manusia mempunyai potensi untuk mencapai tingkat yang paling tinggi posisi transendensinya. Manusia dikatakan mampu mencari batas kreativitasnya menuju apa yang disebut pencapaian tertinggi dari kesadaran dan kebijaksanaan. 

Teori Kebutuhan Manusia 
jika kita mendalami pola pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan, tidak bisa lepas dari teori motivasi yang menjadi landasannya. Konsep dasar Maslow memaparkan tujuah dasar untuk memahami manusia secara menyeluruh di antaranya adalah: 
  • Pertama, manusia merupakan individu yang terintegrasi penuh secara pribadi . 
  • Kedua, karakteristik kebutuhan muncul tidak bisa menggantikan kebutuhan tertentu lainnya. 
  • Ketiga, tujuan puncak dari kebutuhan manusia dalam menjalani kehidupan. 
  • Keempat,  tentang kehidupan bawah sadar yang tidak diabaikan sebagai motivasi. 
  • Kelima, keinginan fundamental manusia adalah tidak jauh dari kehidupan sehari-harinya. 
  • Keenam, keinginan yang muncul dan disadari, seringkali merupakan pencetus dari tujuan lain yang tersembunyi. 
  • Ketujuh, motivasi adalah konstan dan tidak pernah berakhir.
Struktur Teori Maslow 
adalah struktur tingkatan yang menyeluruh dibangun yang berlandaskan hierarki kebutuhan manusia menurut maslow. Maslow membagi hierarki kebutuhan dalam lima tingkat dasar kebutuhan yaitu: 
  •  a. Kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang paling dasar dari kebutuhan manusia, kebutuhan fisik ini bersifat biologis seperti oksigen, makanan, air dan lainnya. Hal ini didasari bahwa kebutuhan akan fisik ini tidak bisa digantikan oleh kebutuhan yang lain, ini adalah kebutuhan yang paling utama.
  • b. Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan yang memiliki sifat fisiologis yang wajib terpenuhi untuk kebebasan dari rasa takut, walaupun kebutuhan ini masih bersifat fisiologis namun menjadi faktor utama pengembangan manusia supaya menjadi lebih baik. 
  • c. Kebutuhan kepemilikan adalah  kebutuhan akan kasih saya, memiliki dan memiliki nilai nilai fisik lahirian. Manusia akan cenderung mencari cinta orang lain supaya bisa dimengerti dan dipahami oleh orang lain. kebutuhan cinta tentu berbeda dengan kebutuhan akan sek, sehingga ini mendasari bahwa kebutuhan kepemilikan menjadi kebutuhan fisik.
  • d. Kebutuhan untuk dihargai adalah kebutuhan untuk bisa dihargai oleh sesama manusia di dalam bermasyarakat. Hal ini menyangkut harga diri di mata masyarakat tentang eksistensi apa yang sudah dilakukan.
  • e. Kebutuhan aktualisasi diri, adalah kebutuhan paling puncak dalam pencapaian manusia yaitu pencapaian aktualisasi diri, dimana perubahan persepsi, dan motivasi untuk selalu tumbuh dan berkembang. 
Konsep fundamental Teori Maslow
adalah karakteristik kebutuhan manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang memiliki sifat sama untuk semua manusia, hal ini dinilai karena sumber genetis dan naluriah. kebutuhan dasar harus terpenuhi terlebih dahulu karena akan berdampak pada hal hal yang bersifat lahirian dan naluri kemanusian.

Teori Abraham Maslo Dalam Problem Perkotaan
Dalam hal hal perkotaan, kita banyak menemukan sumber permasalahan perkotaan bermunculan karena tidak tercukupi kebutuhan dasar dari manusia diperkotaan. Bagaimana level kebutuhan yang tidak terpenuhi membuat kodrat manusia menjadi menyimpah hingga muncul hal hal seperti penyakit, situasi komplek, kekurangan intelektualitas, melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia diperkotaan.

Permukiman yang kumuh bisa mengakibatkan sebuah permasalahn bagi perkotaan, hal ini bisa dianalisis berdasarkan tingkatan kebutuhan maslo, atau apakah kebutuhan dari manusia dikawasan kumuh tersebut telah terpenuhi sehingga kebutuhan lainnya perlu dipersiapkan dalam konsep pembangunan infrastruktur fisik.

Kamis, 19 Juli 2018

Kajian Kampung Jembel di Indonesia




Tipe tipe kampung jembel
Istilah kampung jembel atau slum itu mencakup berbagai ragam perumahan buruk dan juga di pakai untuk memperincikan suatu lingkungan tertentu. Istilah slum dipergunakan juga untuk gedung usang di beberapa wilayah kota.

Kehidupan di perkampungan jembel ini tidak selalu menandakan kemerosotan , mungkin saja merupakan tahap pertama dalam peralihan dari kehidupan gelandangan menuju beruamah tangga atau pun sebagai tempat peralihan dari kehidupan gelandangan menuju rumah tangga atau beralih ke tempat yang lebih baik. Munculnya perkampungan ini karena tidak ada bangsa manapun yang mampu menyediakan perumahan yang wajar dengan harga yang terjangkau oleh kaum buruh rendah.

Pembuangan limbah dari perkampungan Jembel
Hal hal paling gawat mempengaruhi kesehatan para pemukim penduduk jembel adalah Pembuangan tinja manusia, yang sering di lepaskan dalam parit yang di gunakan bersma sama oleh puluhan keluarga atau dibiarkan membusuk di antara gubuk gubuk. Tidak tersedianya saranauntuk menyingkirkan tinja dari tempat pemukiman penduduk , senantiasa menimbulkan kemungkinan infeksi bagi orang yang sehat, oleh kotoran dari orang yang sakit dapat menjadi peyebaran penyakit.

Kepadatan berlebihan di Perkampungan jembel
Tidak ada kebebasan pribadi dalam perkampungan jembel, kepadatan di setiap pondok yang di tinggali oleh 1 keluarga saja bisa terdiri dari beberapa manusi.ketidak adanya kebebsan pribadi, memungkinkan ketularan penyakit dan kehancuran lingkungan sosial. Menarik nafas saja sukar.

Beberapa akibat Sampingan Sosial
Kita beranggapan bahwa dampak kehidupan di perkampungan jembel itu sama saja di mana aman, atau kita beranggapan bahwa pemukiman buruk itu sebagai penyebab tunggal dari kelainan sosial. Sekalipun perumahan buruk itu turut menyebabkan kejahatan kaum remaja, namun pengaruh tersebut dapat saja di kurangi dengan unsur unsur pelestarian, termasuk pengaruh dari orang tua, pergaulan, nilai nilai etika yang mengimbangi dan penertiban yang bersifat membangun di lingkunagn pemukiman dan sekolahan.

Senin, 11 Juni 2018

Critical Review : URBANISASI dan SUBURBANISASI

 


Tulisan ini berbentuk critical review dari paper berjudul Urbanisasi dan Suburbanisasi perkotan yang berjumlah 8 halaman. Makalah tersebut di tulis oleh 3 orang mahasiswi Prodi Manajemen Perkotaan untuk tugas kelompok 1 Sosiologi perkotaan, yang di presentasikan pada tanggal 29 september 2017.

Dalam makalah tersebut di bagi 4 bab yang menjelaskan berbagai macam permasalahan perkotaan akibat dari Urbanisasi dan efek suburbanisasi.

Pada bagian pertama pembahasan tentang Urbanisasi berlebih, tidak di jelaskan arti kata Urbanisasi berlebih dalam paragraph ini, susah untuk di pahami secara harfiah. Penulis makalah juga tidak dapat memberikan batasan batasan tentang makna urbanisasi berlebih. Banyak study tentang urbanisasi dan jurnal jurnal ilmiah yang sudah membahas mengenai cara menghitung atau formula yang bisa di adaptasikan oleh para peneliti untuk menghitung urbanisasi berlebih. Yaitu jurnal yang ditulis oleh Asep karsidi dan anotnius B wijanarto berjudul “Prediksi Pertumbuhan Urbanisasi menggunakan Model Regresi Logistik : studi Kasus di bogor, provinsi Jawa Barat , Indonesia”. Di dalam jurnal tersebut membahas topic prediksi pertumbuhan urbanisasi, sehingga urbanisasi berlebih bisa di prediksikan, berbeda pendapat dengan penulis makalah kelompok 1.

Pada bagian pertama juga di bahas 3 gejala sebuh kota tumbuh terlalu pesat. Pada point point tersebut tidak di jelaskan waktu atau moment bagaiman perkotaan tersebut tumbuh pesat, hanya di jabarkan ciri cirri penduduk kota yang miskin dan perkotaan menjadi tidak layak huni. Menurut Sujart (1989) factor perkembangan pesat sebuah kota adalah 3 faktor yaitu yang pertama adalah faktor manusia, kedua Faktor kegiatan manusia dan faktor pola pergerakan. Ketiga faktor tersebut menumbuhkan pesat masyarakat perkotaan, baik pertumbuhan urbanisasi berlebih tersebut.

Kesimpulan pada topic pertama ini adalah setiap pola pola pertumbuhan kota harusnya berdasarkan 3 faktor menurut Sujarto (1989) bukan faktor yang lain yang tidak relevan.

Pada topik kedua membahas Industrialisasi dan urban bias, menurut para penulis makalah : Kebijakan yang mengutamakan kota (urban Bias) akan memperlebar jurang pendapatan antara kota dan desa. Keadaan ini mendorong tetap berlangsungnya tingkat migrasi yang tinggi meskipun penganguran di kota meningkat terus. Di point ini penulis makalah sudah dengan gambling menjelaskan perkembangan industrialisasi terhadap kota kota. Bagaimana sebuah kota di tuntut untuk mengarahkan system permodalah dan keuangannya untuk di gelontorkan ke sector industry untuk menyerap tenaga kerja sebanyak banyaknya. Namun yang paling penting adalah krritikan tentang pola penyebaran dari lokasi industry tersebut tidak boleh di letakkan dalam satu system area, harus terbagi bagi dengan beberapa sector system sehingga industrialisasi tidak selalu mengakibatkan urbanisasi dan pengumpulan massa dalam satu tatanan perkotaan. Karena industrialisai termasuk teori yang di jabarkan oleh Sujarto (1989). Manusia dan kegiatan manusia mengakibatkan pola pergerakan ekonomi.

Menurut penulis industrialisasi merupakan satu satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebsan, kemudian muncullah kebijakan memprioritastkan industrialisasi. Penulis makalah ini terlalu cenderung menilah hal hal yang bersifat negatif dari industrialisasi untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat perkotaan dan urbanisasi. Saya pernah menyaksikan segua film berjudul “Manufactured Landscape” ini adalah segua film documentari tentang bagaimana masyarakat china membangun negara mereka dengan industrialisasi. Republik rakyat china berrevolusi ekonomi mereka dengan proses industriasi ruang dan kehidupan perkotaan dan pedesaan. Masyrakat pedesaan yang memproduksi peralatan peralatan konsumsi masyarakat modern, kemudian masyarkat perkotaan yang menjualkan ke luar negeri, masyarkat perkotaan juga yang menyiapkan desain atau ide ide untuk produk industrialisasi. Kemudian pemerintah china mendorong hasil produksi industri di ekspor dengan berbagai kemudahan.

Sehingga kesimpulan untuk topik kedua ini, tidak preleva jika para penulis makalah tersebut menyebut industrialisasi megakibatkan perkotaan menjadi banyak pengagguran.

Topik ketiga dari makalah kelompok satu membahas tentang dari produksi massa ke konsumsi massa. Di sini di jabarkan bagaimana gaya hidup rumah tangga masyarakat perkotaan tidak sanggup menyediakan komoditas sendiri(produksi sendiri) berbera dengan masryakat pedesaan. Ketidak mampuan menciptakan kebutuhannya sendiri ini yang memancih massa untuk melakukan pergerakan.

Topik ke empat adalah urbanisasi dan suburbanisasi di indoneisa, dalam presentasi powerpoint yang disampaikan oleh kelompok satu, materi urbanisasi dan suburbanisasi nampak paling di kuasa dan paling dominan, sehingga materi yang lain tidak tersampaikan dengan baik. Mobilisasi penduduk menjadi kata yang paling dominan dipermasalahan urbanisasi dan suburbanisasi, bagaiaman kelompok satu menjelaskan bagaiaman membuaka lahan baru untuk tumbuhnya suburbanisasi namun tidak di sertai oleh efek di kemudian hari bahwa lahan yang di buka di tepi jalan akan deruba fungsi dari harga murah menjadi harga mahal, daya beli masyarakat pun akan deruba di daerah suburban yang di lewati jalur utama kendaraan. Potensi daerah simpul simpul kota yang saling mengikat tidak di jabarkan dan di orientasikan bagaimana cara menghadapai simpul simpul tersebut, apakah mendukung daerah suburbanisasi atau malah merugikan daerah kawasan baru.

Kesimpulan dari critical review dari saya adalah, penulis makalah seharusnya lebih mengkonsep topik topik menjadi satu judul yang lengkap mewakili dari empat topik bahasa. Contoh Urbanisasi dan suburbanisasi berlebih mendorong sistem indrustrialisasi dan peralihan massa di perkotaan. Perlu di perbanyak kutipan dari berbagai literatur yang menyampaikan teori urbanisasi, seperti teori urbanisasi di negara berkembang (Ever dan Korff ,2002), unsur utama dari sektor informal (mcgee dan yeung, 1978), teori perbedaan struktur masyarakat (Smelser,1963), konseptual urbanisasi berdasarkan aspek aspek (Nia K pontoh, 2008)

Critical Review : Dimensi Sosial , Spasial Kota

 


Critical review untuk materi makalah kelompok 5 yang berjudul Dimensi sosial spasial kota, materi ini tidak di presentasikan di hadapan penulis. Penulis berusaha mereview berdasarkan materi dari makalah yang dishare di grup email bersama anggota kuliah sosiologi perkotaan. Materi makalah itu di tulis oleh SYAMSUARDI, ADE GUNA SAPUTRA, sesama mahasiswa prodi manajemen perkotaan Universitas hasanuddin makassar. 

Paragraf pertama dari materi yang di paparkan adalah dimensi sosial spasial kota, di sini di jabarkan tentang konsep dasar sosiologi spasial, yang di tulis sebagai berikut , setiap manusia menepati ruang, kebutuhan akan ruang ini tergantung dari beberapa faktor antara lain ekonomi, sosial , pendidikan dan sebagainya. Di sini jelas di jabar kan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk hubungan sosialnya. Beberapa rujukan juga di tulis di paragraf ini , seperti menurut Schulz.1985 dan marti nuswantoro (2004;5). Di mana sistem spasil dapat di gambarkan saling keterkaitan antara man, space dan time. Kemudian di jelaskan juga tentang paragraf perubahan sosial dan ekonomi berdasarkan disparitas geografis di seluruh dunia.Penjelasan tentang 3 keunggulan kota hingga dominasinya di jelaskan dengan baik, namun kritik saya pada paragraf dan topik ini yaitu tidak di sediakannya perbandingan antar materi yang di jabar kan. Jika membahas kota atu pedesaan hingga materi perkembangan sosial alangkah baiknya di jabarkan contoh studi kawasan yang sudah aplikabel terhadap materi tersebut. Penjelasan teori lebih mudah di serap jika memiliki perbandingan yang jelas dan terstruktur.

Kemudian paragraf kedua, mengenai Akses Ke Ruang kota, di sini penulis makalah memberikan asupan materi tulisan yang terkesan mengambang karena hanya membahas kondisi kota secara garis besar, tanpa membahas akses ruang apa yang di maksud. Tidak jelas penjabaran mengenai akses ke ruang kota mengakibatkan tidak dapat di pahami bahwa tulisan ini tidak terstruktur secara rapi dan dapat di urutkan dari kalimat pertama hingga kesimpulan paragraf. Saya hanya menangkap materi penjebaran urbanisasi dalam penekanan ekspansi dan aggregasi. Perlu perambahan materi lebih luas dari daftar pus taka baru agar dapat di mengerti.

Paragraf ketiga penulis makalah memberikan judul “perubahan konsep kepemilikan tanah”. Materi ini sangat jelas menarik saya sebagai pembaca makalah. Saya berharap pada penjabaran baru mengenai konsep kepemilikan tanah terhadap kebutuhan ruang di perkotaan. Di paragraf ini hanya menjelaskan siapa saja temili tanah tapi tidak di jabarkan konsep apa kepemilikan tanah. Saya kurang mendapatkan visualisasi maksud dari konsep kepemilikan tanah terdapat ruang spasial perkotaan. Kemudian muncul topik algomerasi dan despritas wilayah, maksud pemakalah adalah menjelaskan konsep dasar sosiologi spasial , yaitu setiap mansa membutuhkan ruang berdasarkan ekonomi dan sosial pendidikan. Hal ini sama dengan penjelasan materi Dimensi Spasial sosial kota, sehingga tidak ada hal baru yang perlu d jabarkan di paragraf ini. Hal menarik terakhir dari makalah ini adalah penjelasan bab Sosiologi perkotaan, ini adalah paragraf terakhir dari makalah yang di tulis dari kelompok 5. Di sini di jelaskan ekspansi warga keturunan China di negara Malaysia yang datang berbarengan dengan kapitalisme modern, kemudian di jelaskan masyarakat pendatang tersebut menguasai semua sektor berbanding dengan masyarakat peribumi. Kemudian makalah tersebut menjelaskan bahwa ketidak-seimbangan sosial muncul karena masyarakat pendatang dari China menguasai daerah perkotaan, sedangkan pribumi pindah ke desa desa.

Kesimpulan Saya sebagai pereview makalah berjudul dimensi social spasial kota, mendapatkan sebuah kelimuan baru berjudul “KEBUDAYAAN URBANISASI” hal ini menjadi menarik karena pernulis menjelaskan ternyata ada sebuah kebudayaan urbanisasi, yaitu masyarakan desa yang memiliki nilai kekerabatan desa social culturenya di bawa ke kota kota dan mereka cenderung melestarikan karakter pedesaannya di mana rumah rumah di bangun rapat di atas tiang dan memelihara ayam di bawahnya. System social kebudayaan urbanisasi ini hampir mirip dengan istilah kebudayaan miskin, yang menjadi topic kelompok 4, atau materi dari saya.

Kamis, 07 Juni 2018

Mengenal Kawasan Industri Kariangau berdasarkan RTRW kota Balikpapan

Kota Balikpapan adalah sebuah kota di Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini memiliki perekonomian terbesar di seantero Kalimantan, dengan total PDRB mencapai Rp79,65 triliun pada tahun 2016. Kota Balikpapan merupakan kota terpadat ke dua setola kota Samarinda di kalimantan timur.

Kawasan Industri Kariangau seluas 2.721 Ha merupakan kawasan peruntukan industri yang merupakan sarana untuk mendorong kegiatan industri berbasis penggunaan SDA Terbarukan. Kegiatan Industri: Industri Agro, Industri Konstruksi, Industri Migas, Industri Perkayuan, Indstustri transportasi. Infrastruktur utama adalah jalan poros yang terletak di kilometro 13 dengan panjang 12 km terdiri dari 2 lajur Jalan yang terkoneksi oleh jalur tol samarinda balikpapan.

Kawasan Industri adalah suatu daerah yang di dominasi oleh aktivitas industri yang mempunyai fasilitas kombinassi terdiri dari peralatan peralatan pabrik (industrial plants), sarana penelitian dan laboratorium untuk pengebangan bangunan perkantoran, bank serta fasilitas sosialdan Fasilitas umum (Dirdjojuwono, 2004). Berbagai macam infrastruktur sudah di bangun dengan cara peralihan fungsi secara besar besaran demi target pengembangan axstrategis ber integrasi dalam kurun waktu 20 tahun sejak 2012.

Kawasan Industri Kariangau ini berada di teluk Balikpapan yang di huni oleh berbagai macam ekosistem darat, laut dan udara. Satwa yang di lindungi seperti bekantan, Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.1787) adalah jenis satwa yang temasuk kedalam ordo Primata, famili Cercophitecidae, dan sub-famili Colobinae (Jolly,1972). Jenis primata ini tergolong langka dan endemik Kalimantan, dengan habitat terbatas pada hutan bakau, hutan di sekitar sungai dan habitat rawagambut yang sebagian telah terdegradasi oleh berbagai aktivitas manusia.(Strategi dan rencana aksi konservasi Bekantan tahun 2013-2022.

Peta rencana kawasan strategis kota balikpapan (sumber RTRW kota)

peta rencana pola ruang kota Balikpapan (sumber RTRW kota)

peta rencana struktur ruang kota balikpapan (sumber RTRW kota)

Senin, 05 Maret 2018

Balikpapan Bisa Belajar Sistem Pembuangan Hujan Di Kota Saitama, Jepang

 

G can saitama , sumber gambar


BANJIR SEBAGAI DAMPAK DEFORESTASI DI KALIMANTAN TIMUR Para pelaku pembangunan baik pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, pada umumnya masih memperlakukan lingkungan hidup sebagai barang bebas (Free Commodity). 

Akibatnya pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan tidak dilakukan secara bijaksana. Sumber daya alam dieksploitasi secara maksimal tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan hidup dan daya dukung lingkungan yang ada.

Banjir sering menjadi momok kota Balikpapan, jika di kota ini terjadi banjir karena pengupasan lahan besar besaran untuk digunakan sebagai pertumbuhan pemukiman dan perekonomian tanpa memperhatikan resapan.

kota Samarinda, pengupasan lahan besar besaran karena konsumsi produksi batu bara berlebihan mengakibatkan pendangkalan sungai Mahakam dan potensi lahan air yang tidak bisa mengalir.

Kota Saitama adalah ibu kota dan paling padat penduduknya kota dari Saitama Prefektur , Jepang . Wilayahnya menggabungkan bekas kota Urawa , Ōmiya , Yono dan Iwatsuki . kota Saitama memiliki luas 2217,43kmw dengan total penduduk 1.2juta  (februari 2016).

Untuk menghindari banjir pada musim angin topan, kota Saitama di Jepang memiliki sistem selokan badai yang mengesankan. 

Pada tahun 1992 dimulainnya pembangunan beton raksasa dengan ketinggian 65m, lebar 32m yang terhubung pada 6,4 km terowongan bawah tanah, terowongan ini berada dibawah tanah 50m. 

Kota ini terletak 20 hingga 30 km di utara pusat Tokyo, kira-kira di pusat Dataran Kanto. Terletak di sekitar pusat Prefektur Saitama, kota ini secara topografi terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi, kebanyakan kurang dari 20 m di atas permukaan laut, tanpa pegunungan atau perbukitan di dalam batas kota. 

Sisa wilayah lainnya sebagian besar berada di Ōmiya Plateauberbaring di arah utara-selatan. Tersebar di wilayah ini, sungai-sungai besar mengalir ke selatan, hampir sejajar satu sama lain.

Ini juga memiliki tangki raksasa: tinggi 25,4m, panjang 177m dan lebar 78, dengan 59 kolom beton . Struktur yang mengesankan ini dibuka untuk wisatawan. Lebih banyak gambar dan video di bawah ini. Pastikan untuk memeriksa truk yang sedang diangkat melalui saluran pembuangan

suatu yang besar dan megah itu pastilah sangat menarik, kali ini saya mendapatkan berita tentang sebuah terowongan pembuangan air raksasa di jepang, tepatnya di kota Saitama. Sebuah solusi raksasa tentang bagaimana masyarakat jepang menyelesaikan permasalah perkotaannya secara modern dan luar biasa cerdas.

G-Cans adalah sistem drainase terbesar di dunia. Sistem drainase ini bertujuan jelas untuk menghindari banjir, membuang air sebanyak banyaknya kedalam kanal. Hal ini bisa di terapkan di kota kota banjir seperti balikpapan dan Samarinda.

Metode kerja dari G-Can ini yaitu menerima semua aliran air dari semua sudut kota, kemudian ditampung dalam terowongan bawah tanah. Terowongan ini akan memiliki ujung dilaut lepas, namun terowongan ini berfungsi untuk menampung jumlah debit air yang besar jika badai datang.

Berbagai ahli mendaulat G-Cans sebagai sebuah keajaiban teknologi. karena skala besarnya dan daya tampung dari canal tersebut. sebuah maha karya yang layak untuk di apresiasi dunia. 

pemerintah Tokyo, mengungkapkan bahwa sistem canal ini mampu mengurai dua pertiga wilayah yang biasanya tekena genangan saat hujan turun atau badai.

so. apakah kota Balikpapan dan Samarinda akan menciptakan Canal penampungan air, atau membuat Bendali bendali saja, namun masih sering Banjir.

Senin, 04 Desember 2017

Kenali Istilah "Massa Apung" di Dalam Lingkungan Masyarakat dan Involusi Perkotaan



Suatu masyarakat kota sangat kompleks menurut ukuran kesukuan, pekerjaan serta kelompok-kelompok sosial. 

Inti masyarakat kota adalah masyarakat dengan pemukim jangka panjang yang mempunyai pekerjaan yang mantap dan stabil, golongan ini termasuk kalangan usahawan, pengusa industri kecil dan pegawai negeri. Inti ini dikelilingi oleh kelompok masyarakat dari sektor informal yan biasa disebut massa apung.

Ciri khas massa apung adalah mobilitas geografis dan pekerjaan mereka yang tinggi. Kaum pendatang musiman, para pekerja tak tetap dan orang-orang yang mencari pekerjaan, mereka yang tak punya tempat tinggal, tanpa atau dengan pendidikan rendah.

Istilah massa apung dipengaruhi oleh istilah yang sama yang digunakan oleh Hans-Dieter Evers untuk menyebut golongan miskin di Jakarta. Dalam konteks tersebut, Evers menyebut orang miskin di Jakarta yang sangat banyak jumlahnya itu sebagai orang-orang yang tidak memiliki orientasi tunggal, sangat disibukkan oleh kepentingan subsistensi ekonomi. Kondisi mereka yang miskin itu sangat rentan untuk dipergunakan oleh kelompok elit politik demi kepentingan politik tertentu karena kebutuhan ekonomi cepat mengakibatkan massa ini gampang dibawa ke arah tertentu oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

“Massa apung” tersebut terikat pada struktur administratif pemerintahan yang berfungsi dengan baik; ada kelompok-kelompok tetangga yang jalinannya sangat erat, perkumpulan kesukuan, kelompok-kelompok kerja serta kelompok-kelompok kekerabatan yang sangat tersebar tetapi efektif secara ekonomi.

Proses involusi kota diperkuat oleh modernisasi yang makin meningkat, yaitu berupa pembangunan besar-besaran dan pengeluaran pemerintah. Involusi kota merupakan perwujudan dari struktur keterbelakangan kota-kota sehingga menjadi kota sebagai pusat perubahan.

Jumat, 27 Oktober 2017

Pekerja Sek Komersial Di Kota Balikpapan (Studi Kasus di Jalan Jenderal Sudirman Balikpapan)

Balikpapan merupakan sebuah kota di Kalimantan Timur, Indonesia. Balikpapanmemiliki penduduk sebanyak 735.850 jiwa, yang merupakan 22 % dari keseluruhan penduduk Kaltim. Lokasi paling strategis adalah jalur utaman jalan jenderal sudirman balikpapan, yang merupakan akses utama pusat kota balikpapan. 
Apabila kita teliti lebih dalam mengenai penduduk yang tinga di kota ini, penulis meilih untukmelakukan analisis mendalam pada kehidupan malam di sepanjang jalan jenderal sudirman balikpapan. Mungkin prilaku dan latar belakang mengapa tumbuh prostitusi di lokasi tersebut belum di ketahui. Hal tersebut menjadi alasan penulis untuk melakukan analisis, pengamatan aktual tentang prostitusi di sepanjang jalan jenderal sudirman balikpapan. 

Setelah melakukan observasi dan riset lapanganmengenai lokasi lokasi tempat beredarnya pelaku prostitusi di kota balikpapan, tepatnya di sepanjang jalur utama jenderal sudirman balikpapan, maka alasan penulis memilih jalur jalan jenderal sudirman karena merupakan jalur utama dan jalur pusat kota balikpapan. Selain itu lokasi jalur ini merupakan jalur paling mudah untuk melakukan observasi dan analisi prilaku di malam hari. 

Didapat beberapa kajian prilaku orang orang yang berkumpul di beberapa titik yang di curigai sebagai lokasi prostitusi tersebut. Para prostitusi muncul di mulai pukul 23;00 malam hari hingga pukul 4;00 pagi hari. 

Prilaku awal adalah muncul wanita wanita di warung warung klontok di beberapa titik jalan jenderal sudirman. Kemudian beberapa tindakan interaksi dari wanita wanita yang ada di warung tersebut bisa di kategorikan sebagai penawaran atau percakapan untuk mencari pelanggan, yaitu dengan cara mendekati kendaraan bermotor yang berhenti di radius 10 meter dari mereka berdiri. Berikut hasi analisa observasi lapangan : Tabel dan gambar dapat disusun misalnya seperti di bawah ini.
Gambar 1. Foto hasil observasi taman bekapai balikpapan yang terletak di pusat kota balikpapan. Terdapat beberapa wanita paruh baya dan lanjut, yang duduk duduk sendiri sendiri di kegelapan, di pojok taman bekapai dekat pangkalan ojek. Foto di ambil pada malam har pada puluk 23;26

Tabel 1. Table variable apa saja yang di pakai untuk mengklasifikasikan tempat, waktu, dan jumlah fisik dari para prostitusi yang berlokasi di Jalan jenderal sudirman balikpapan.
No
lokasi
waktu
Ciri lokasi
Kepadatan kendaraan
Jumlah tunasusila
Ciri fisik
1
Taman Bekapai
22;00-24:00
Remang remang
Sepi
6
Wanita tua
2
Seberang kanida farma
23;00-02:00
Remang remang
Sepi
5
Wanita muda
3
Depan Jamsostek
24;00-04:00
Gelap
Sepi
6
Waria
4
Depan Bank Danamon
24;00-04:00
gelap
sepi
7
waria
 
Gambar 2.foto di seberang kanida farma, beberapa wanita duduk di atas motor, dengan pakaian seronok dan terbuka. Mendekati sepeda motor atau mobil yang berhenti di radius 10 dari mereka berdiri. Foto di ambil sebagai bukti pengamatan lokasi di malam hari pada pukul 23;55 di jalan jenderal sudirman balikpapan

Respon pemerintah terhadap prostitusi : Perwal No. 21 Tahun 2014 tentang Kawasan Bebas Prostitusi  
  •  BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 4. Prostitusi adalah segala bentuk kegiatan yang meliputi ajakan, rangsangan, rayuan, membujuk, mengorganisasi, memberikan kesempatan, melakukan tindakan, atau memikat orang lain dengan perkataan, tulisan, isyarat, tanda atau perbuatan lain dengan tujuan untuk melakukan hubungan seks, termasuk tetapi tidak terbatas pada semua kegiatan pelacuran atau perbuatan cabul 
  • BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 5. Kawasan Bebas Prostitusi adalah kawasan yang meliputi seluruh wilayah Kota Balikpapan yang tidak diperkenankan adanya kegiatan prostitusi  
  • BAB III LARANGAN Pasal 4 Setiap orang dilarang melakukan kegiatan prostitusi dalam wilayah Kota Balikpapan, yang meliputi: a. menjadi mucikari dalam wilayah Kota Balikpapan; b. menjadi Pekerja Seks Komersial; c. mengajak, membujuk, memaksa orang lain untuk menjadi Pekerja Seks Komersial; d. memfasilitasi kegiatan prostitusi; dan e. menggunakan jasa Pekerja Seks Komersial. 
  • BAB IV PENGAWASAN(1) Setiap orang yang mengetahui tempat/bangunan/lokasi terjadinya prostitusi dapat melaporkan kepada aparat di lingkungan Pemerintah Daerah atau pejabat yang berwenang. 
  • BAB IV PENGAWASAN(2) Pemerintah Daerah wajib melakukan pengawasan terhadap semua tempat hiburan, rumah, kos-kosan dan tempat-tempat yang patut diduga sebagai tempat kegiatan prostitusi.
Hasil survei ini bisa menjadi studi kasus bahwa pemugaran tempat prostitusi di kilometro 17 kota balikapapan, tidak menghasilkan solusi aktif. Jika di perhatikan prostitusi masih saja tumbuh dan terjadi di posisi posisi tersebut. Pasca Penutupan Lokalisasi Km 17 pendapatan masyarakat yang bekerja dalam kegiatan lokalisasi menurun dan membuat biaya pendidikan anak tidak tercukupi. Masyarakat yang tidak memiliki keterampilan dan telah berumur tidak dapat mencari pekerjaan lain, walaupun kembali berkebun tapi hasil kebunnya harus menunggu panen berbulan-bulan (Hendra Setiadi, jurnal unmul)

Kesimpulan Agar di temukan solusi permasalah sosiologi kependudukan perkotaan di kota Balikpapan, agar tidak merusak masyarakat secara sporadis (tidak teratur). Mendapatkan parameter untuk menerapkan solusi para prostitusi. Memetakan lokasi lokasi bahaya prostitusi di kota balikpapan

Daftar Pustaka
  • Janif Zulfiqar, Nur Fitriah, Enos Paselle, 2014, Analisis Kebijakan Penutupan lokalisasi Prostitusi KM 17 di balikpapan (http://ar.mian.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/03/Jurnal%20Janif%20 (ganjil)-ok%20(03-06-14-08-04-05).pdf – diunduh 25-10-2017)
  • Hendra Setiadi1, 2014, Dampak Kebijakan Penutupan lokalisasi Km 17 terhadap Kesejahteraan Sosial Masyarakat Kota Balikpapan Kecamatan Balikpapan Utara Kelurahan Karang Joang RT 37 dan RT 38 (http://ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/08/artikel_journal_mulai_hlm_ganjil _hendra%20(08-28-14-10-02-42).pdf – diunduh pada tanga 26-10-2017))