Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Kota Tepi Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Tepi Air. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

Mitigasi Bencana Tsunami di Kota-kota Tepi Air

biro Antara | Muhammad Adimaja

Tsunami di Selat Sunda bisa menjadi indikator Tak pernah ada persiapan setiap kota di Indonesia terhadap musibah bencana tsunami. Tidak ada alarm bahaya, tidak ada peringatan dini, tidak ada kewaspadaan masyarakat dan tidak adanya ketanggapan dari BMKG terhadap ciri-ciri dan potensi terjadinya tsunami.

Penerapan TEWS elektronik buatan German setelah tsunami 2004 di Banda Aceh nampaknya tidak berkelanjutan. Ina-TEWS adalah suatu sistem peringatan dini tsunami yang komprehensif yang didalamnya telah di terapkan teknologi baru hasil sistem monitoring gempa, simulasi tsunami dan deformasi kerak bumi. Karakteristik tsunami yaitu ketinggian ombak di laut terbuka (perairan dalam) kira-kira 60 cm dengan kecepatan 500 hingga 800 km/jam. Di air dangkal kecepatan menurun hingga puluhan kilometer per jam. Di wilayah pesisir Sumatra banjir menyebar sejauh 4 km ke daratan. Banda Aceh dicapai oleh tsunami dalam 15 menit.

Indonesia termasuk negara dengan tepi air untuk garis pantainya paling besar di dunia. Letaknya yang berada di ring off fire juga menjadikan negara Indonesia memiliki 80 % wilayah berpotensi terhadap bencana alam, dan 75% kota kota di Indonesia terletak di tepi tepi Air. Satu-satunya bencana alam yang tidak bisa di prediksi adalah bencana gempa bumi, belum ada paramater jelas dari para ilmuan tentang bagaimana mengukur kapan bencana gempa bumi bisa terjadi di mana dan bagaimana prediksi dampak bencana tersebut. Kota-kota tepi pantai paling banyak berdampak jika terjadi tsunami dan gempa bumi berdasarkan jumlah korban jiwanya.

World bank sudah mengeluarkan beberapa publikasi tentang Kota Berketahanan Iklim Serta Pedoman Dasar Pengurangan Kerentanan Terhadap Bencana. Publikasi ini di keluarkan pada tahun 2010. Pedoman dasar tersebut di keluarkan berdasarkan mitigasi bencana besar tsunami 2004 di Banda Aceh. Publikasi tersebut menyatakan Risiko Bencana Untuk Masing-masing Kota itu Berbeda Berdasarkan Lokasi dan Potensi Resiko.

Sebuah penelitian di Indonesia menciptakan Permodelan Tsunami sebagai bahan mitigasi bencana lokasi studinya ada di Sumenep dan kepulauan Madura. Kesimpulan dari penelitian tersebut sebaran gelombang tsunami dari sumber tertentu ke semua target area, travel time dan run up yang terjadi sesuai dengan daerah target. Parameter yang bisa di lakukan adalah dengan mencegah potensi bencana tsunami yaitu dengan 3 metode yang tepat. Metode pertama adalah menerapkan Peta Mitigasi Bencana untuk kota-kota yang terletak di potensi terbesar dari tsunami berdasarkan pengalaman bencana yang pernah terjadi. BNPB telah menerbitkan peta Indeks risiko Bencana Tsunami di Indonesia. Tanggal pembuatannya adalah 10 februari 2009, di peta tersebut tertulis berwarna kuning yang artinya tingkat risiko wilayah Banten dan Lampung masuk kategori sedang. Metode kedua adalah Pola Perencanaan Kawasan Tanggap Bencana Tsunami dan Gempa. Setiap kawasan resiko sedang dan tinggi wajib menerapkan perencanaan kota tanggap gempa dan tsunami. Perubahan RTRW kota wajib menerapkan kawasan mitigasi bencana. Tidak boleh lagi ada hunian pemukiman di sepanjang garis tepi pantai. Metode ketiga adalah Metode Sosialisasi Tanggap Bencana. Pelatihan penyebaran informasi hingga simulasi bencana dan bagaimana mereka harus menyelamatkan diri, menuju Muster Point, perlu dibuatkan bangunan tahan gempa pada fasilitas-fasilitas penting seperti bandara, pelabuhan, airport dan pergudangan.

Metode-metode ini harus mulai di terapkan oleh pemerintah daerah dengan menerbitkan perda ketahanan bencana berdasarkan arahan peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana nomor 03 tahun 2012, kota Palu salah satu kota yang sudah memiliki peraturan daerah Nomor 5 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Saya mendengarkan cerita dosen saya pak Rahman Rasyid bagaimana Profesor mereka saat studi S3 di jepang, menghubungi mereka berkali-kali pasca bencana likuifaksi terjadi di kota Palu. Mereka bertanya apakah bisa mengundang mereka melakukan penelitian sebelum  sisa-sisa likuifaksi hilang. Bagaimana gairah negara jepang yang terus berbenah untuk mendapatkan solusi dan pengetahuan lebih terhadap bencana yang sering mereka dapatkan. Kenapa kita tidak perduli dengan ilmu pengetahuan tersebut?

Apakah korban jiwa tidak menjadi pembelajaran untuk kewaspadaan kita di masa depan.

Sabtu, 21 Juli 2018

Membangun ketahanan perkotaan di Indoensia

Ketahanan Perkotaan di Indoensia (sumber IKUPI)

 

Ketahanan Perkotaan telah dengan cepat menjadi istilah populer di banyak disiplin termasuk disiplin perencanaan kota. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ketahanan semakin banyak digunakan dalam kebijakan dan strategi perkotaan. 
Istilah Ketahanan Perkotaan
Ketahanan tampaknya cepat menggantikan keberlanjutan. Konsep keberlanjutan telah berada di garis terdepan dalam wacana kebijakan perkotaan sejak Komisi Brundtland Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan konsep pembangunan berkelanjutan pada tahun 1987. Keberlanjutan bertujuan untuk meminimalkan dampak aktivitas diperkotaan terhadap lingkungan. Keberlanjutan membuat lingkungan kembali seimbang, tetapi perilaku lingkungan sulit diprediksi. 

Kita hidup di lingkungan dengan rasa ketidakpastian dan ketidakpastian yang tinggi. Ada banyak peristiwa lingkungan yang berada di luar kendali kita dan kita perlu bertahan hidup ketika lingkungan menyerang kita.

Mengacu pada CS Holling yang menciptakan ketahanan pada makalahnya di tahun 1973 tentang ekologi sistem

Ketahanan kata berasal dari resilire, Latin untuk memantul. 

Kemudian Yayasan Rockefeller menugaskan tim untuk mengembangkan tinjauan pustaka komprehensif ketahanan dan merilis laporan pada September 2011. Tinjauan ini berfokus pada tiga kerangka ketahanan termasuk ketahanan untuk objek, sistem dan sistem adaptif.

Ketangguhan untuk sistem adalah mempertahankan fungsi sistem jika terjadi gangguan. Sementara itu, ketahanan untuk sistem adaptif adalah kemampuan untuk bertahan, pulih dari, dan mengatur kembali sebagai respons terhadap krisis (Martin-Breen dan Anderies 2011). 

Bagaimana dengan ketahanan perkotaan? 

Saya mendefinisikan ketahanan perkotaan sebagai kemampuan masyarakat perkotaan untuk pulih dari bencana dan gangguan dengan cara yang berkelanjutan, menjaga kualitas hidup yang baik dan meningkatkan kapasitas penanggulangannya untuk mengurangi kerusakan dari bencana atau gangguan yang tidak dapat diprediksi. Masyarakat urban yang tangguh lebih siap menghadapi ketidakpastian dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah.

Komponen Ketahan Nasional
World Economic Forum merilis Laporan Resiko Global 2013 dan memasukkan bagian ketahanan dalam laporan tersebut. Ini adalah Laporan Risiko Global Pertama dari Forum Ekonomi Dunia yang membahas risiko global dari perspektif ketahanan. 

Laporan ini mengidentifikasi lima komponen ketahanan nasional dan saya percaya lima komponen ini berlaku untuk konteks perkotaan.
  1. Komponen ketahanan perkotaan, ketahanan, redundansi, sumber daya, respon dan pemulihan merupalan komponen ketahanan perkotaan. Ketangguhan mengacu pada kemampuan untuk menyerap dan menahan bencana dan gangguan.
  2. Redundansi, istilah redundansi adalah kelebihan kapasitas untuk memungkinkan pemeliharaan fungsi inti jika terjadi bencana dan gangguan. 
  3. Ketertarikan melibatkan kemampuan untuk beradaptasi dan merespon fleksibilitas terhadap bencana dan gangguan dan mengubah dampak negatif menjadi positif. 
  4. Respons berarti kemampuan untuk memobilisasi dengan cepat dalam menghadapi gangguan. 
  5. Pemulihan perkotaan adalah kemampuan untuk mendapatkan kembali normalitas setelah bencana atau gangguan. 
Membangun ketahanan perkotaan mengacu pada pengembangan lima komponen ini dalam sistem perkotaan termasuk bangunan, infrastruktur dan masyarakat.

Model membangun komunitas perkotaan yang tangguh
Model yang dimaksud termasuk mode mitigasi dan mode adaptasi. 
  • Model mitigasi mengacu pada intervensi yang ditujukan untuk mengurangi risiko dan bahaya jangka panjang dan juga menghindari dampak bencana atau gangguan yang tidak dapat dikelola. 
  • Model adaptasi melibatkan penyesuaian yang ditujukan untuk memoderasi kerusakan jika terjadi bencana atau gangguan atau mengeksploitasi peluang bermanfaat dan juga mengelola dampak yang tidak dapat dihindarkan dari bencana atau gangguan. 
Membangun ketahanan perkotaan bukanlah program jangka pendek. Ini adalah program jangka panjang dan membutuhkan koordinasi di antara para pemangku kepentingan di kota termasuk lembaga pemerintah, perusahaan swasta, dan penduduk untuk mempersiapkan diri, bertahan dan pulih kembali dari bencana, gangguan dan tekanan kronis.

Tantangan Seratus dari 100 Kota Tangguh
Pada Mei 2013, Rockefeller Foundation mengumumkan Tantangan Seratus dari 100 Kota Tangguh. Yayasan Rockefeller menerima hampir 400 aplikasi dari kota-kota di seluruh dunia termasuk kota-kota yang berusia ribuan tahun ke kota-kota besar yang berurusan dengan urbanisasi yang cepat. 

33 kota yang dipilih termasuk Semarang, Melbourne, New York City, San Francisco, Los Angeles, New Orleans, Ramalah, Rotterdam, Roma, Rio de Jainero, Mexico City dan Dakar

Kota-kota ini telah menerapkan program inovatif dan menunjukkan hasil yang positif untuk ketahanan. Sebagai contoh, kota Semarang telah mampu untuk menangani bencana rob atau meluapnya air laut karena pasang dan perubahan iklim. Demikian pula, New York City telah belajar pelajaran berharga dari Badai Sandy dan mengembangkan program untuk melindungi penghuninya dari banjir pesisir dan kenaikan permukaan laut yang dapat menyebabkan model yang dapat ditiru untuk kota-kota pesisir lainnya.

Program inovatif Ketahanan Perkotaan
untuk meningkatkan ketahanan dan pelajaran yang dipetik dalam pemulihan dari bencana dan bencana dari kota-kota terpilih harus diperkenalkan ke kota-kota lain untuk kemungkinan replikasi termasuk ke kota-kota di Indonesia. 

Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia harus bersiap untuk kemungkinan bencana atau gangguan dan harus mengembangkan sistem untuk pulih lebih kuat dari bencana atau gangguan. Semarang dipilih karena memiliki program inovatif untuk mengatasi banjir flush dan banjir pasang termasuk panen air hujan, perkebunan rumput vetiver, rehabilitasi mangrove dan sistem peringatan dini untuk banjir dan penyakit yang ditularkan vektor. 

Kota-kota lain di Indonesia harus belajar dari Semarang dan kota-kota terpilih lainnya dan memiliki sistem di tempat untuk memulihkan, bertahan atau bahkan berkembang di tengah gangguan.

Daftar Isi ;
  • The Rockefeller Foundation. (2020). 100 Resilient Cities - The Rockefeller Foundation. [online] Available at: https://www.rockefellerfoundation.org/100-resilient-cities/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • ‌Ikupi.org. (2015). IKUPI – Inisiatif Kota untuk Perubahan Iklim. [online] Available at: https://ikupi.org/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • dinustek | Dwi Febry (2017). Bappeda Kota Semarang. [online] Semarangkota.go.id. Available at: https://bappeda.semarangkota.go.id/ [Accessed 26 Jun. 2018].
  • Martin-Breen, P., & Anderies, J.M. (2011). Resilience: A Literature Review.
  • Uci.edu. (2022). C.S. Holling and Ecological Resilience: Ecological Resilience: UCI Regional Climate Resilience Project: ‘Deconstructing Resilience’. [online] Available at: https://canvas.eee.uci.edu/eportfolios/13884/Ecological_Resilience [Accessed 26 Jun. 2018].