Kota Layak Huni dan anomali perubahan cuaca
Cari Blog Ini
Sabtu, 19 Januari 2019
Kota Layak Huni dan anomali perubahan cuaca
Senin, 14 Januari 2019
Pengertian Trotoar, Ukuran Trotoar, Kegunaan Trotoar dan Trotoar di Peruntukkan Bagi Siapa
![]() |
| Pengertian Trotoar, Ukuran Trotoar, Kegunaan Trotoar dan Trotoar di Peruntukkan Bagi Siapa, foto milik pribadi |
Artikel ini di buat oleh penulis ketika menemukan trotoar tidak tersambung dan tidak tertata dengan rapi di jalan martadinata kota Balikpapan. Kita sebagai masyarakat wajib mengetahui mengenai Pengertian Trotoar, Ukuran Trotoar, Kegunaan Trotoar dan Trotoar di Peruntukkan Bagi Siapa, karena ini adalah bagian dari infrastur penunjang di perkotaan.
Pengertian Trotoar
- a) Lebar efektif untuk lajur para pejalan kaki ditentukan berdasarkan kebutuhan satu orang adalah 60 cm ,ditambahkan dengan lebar ruang gerak tambahan sebesar 15 cm. Tambahan ini ditujukan untuk pergerakan tanpa membawa barang, sehingga kebutuhan total lajur untuk dua orang pejalan kaki bergandengan atau dua orang pejalan kaki berpapasan tanpa terjadi persinggungan sekurang-kurangnya 150 cm.
- b) Penghitungan lebar trotoar minimal menggunakan Persamaan (1) 𝑊 = 𝑉 35 + 𝑁 (1) adapun Keterangannya: W adalah lebar efektif minimum dari trotoar dalam satuan (m), kemudian V adalah volume pejalan kaki rencana/dua arah dalam satuan (orang/meter/menit) dan N adalah lebar tambahan sesuai dengan keadaan setempat dengan satuan (meter), ditentukan dalam Tabel.
![]() |
| Contoh penentuan dimensi trotoar berdasarkan lokasi dan arus pejalan kaki maksimum (sumber) |
![]() |
| bolar tonggak yang menghalangi kendaraan masuk ke area trotoar @tribun |
Bolar tonggak yang ditempatkan berjarak sekitar 30 cm dari kerb/patas tepi trotoar, kemudian dimensi bolar sesuai standar yaitu diameter 30 cm dengan ketinggian 0,6 – 1,2 meter, adapun jarak penempatan bolar tonggak disesuaikan dengan kebutuhan, namun tidak lebih dari 1,4 meter tiap tiap bolar.
Kegunaan Trotoar
Peradaban sebuah kota berbagai literatur menyampaikan bahwa menikmati kota adalah dengan cara berjalan kaki, majunya sebuah perkotaan dengan peradabannya adalah tercermin dari kota ini memberikan fasilitas perjalan kaki dan keselamatan pejalan kaki.
Bagaimana prioritas kota balikpapan terhadap pembangunan trotoar untuk tujuan fungsi utamanya untuk pejalan kaki, bukan sebagai asesoris perkotaan dengan estetika sebagai pilihan utama.
Jumat, 04 Januari 2019
Mitigasi Bencana Tsunami di Kota-kota Tepi Air
![]() |
| biro Antara | Muhammad Adimaja |
Indonesia termasuk negara dengan tepi air untuk garis pantainya paling besar di dunia. Letaknya yang berada di ring off fire juga menjadikan negara Indonesia memiliki 80 % wilayah berpotensi terhadap bencana alam, dan 75% kota kota di Indonesia terletak di tepi tepi Air. Satu-satunya bencana alam yang tidak bisa di prediksi adalah bencana gempa bumi, belum ada paramater jelas dari para ilmuan tentang bagaimana mengukur kapan bencana gempa bumi bisa terjadi di mana dan bagaimana prediksi dampak bencana tersebut. Kota-kota tepi pantai paling banyak berdampak jika terjadi tsunami dan gempa bumi berdasarkan jumlah korban jiwanya.
World bank sudah mengeluarkan beberapa publikasi tentang Kota Berketahanan Iklim Serta Pedoman Dasar Pengurangan Kerentanan Terhadap Bencana. Publikasi ini di keluarkan pada tahun 2010. Pedoman dasar tersebut di keluarkan berdasarkan mitigasi bencana besar tsunami 2004 di Banda Aceh. Publikasi tersebut menyatakan Risiko Bencana Untuk Masing-masing Kota itu Berbeda Berdasarkan Lokasi dan Potensi Resiko.
Sebuah penelitian di Indonesia menciptakan Permodelan Tsunami sebagai bahan mitigasi bencana lokasi studinya ada di Sumenep dan kepulauan Madura. Kesimpulan dari penelitian tersebut sebaran gelombang tsunami dari sumber tertentu ke semua target area, travel time dan run up yang terjadi sesuai dengan daerah target. Parameter yang bisa di lakukan adalah dengan mencegah potensi bencana tsunami yaitu dengan 3 metode yang tepat. Metode pertama adalah menerapkan Peta Mitigasi Bencana untuk kota-kota yang terletak di potensi terbesar dari tsunami berdasarkan pengalaman bencana yang pernah terjadi. BNPB telah menerbitkan peta Indeks risiko Bencana Tsunami di Indonesia. Tanggal pembuatannya adalah 10 februari 2009, di peta tersebut tertulis berwarna kuning yang artinya tingkat risiko wilayah Banten dan Lampung masuk kategori sedang. Metode kedua adalah Pola Perencanaan Kawasan Tanggap Bencana Tsunami dan Gempa. Setiap kawasan resiko sedang dan tinggi wajib menerapkan perencanaan kota tanggap gempa dan tsunami. Perubahan RTRW kota wajib menerapkan kawasan mitigasi bencana. Tidak boleh lagi ada hunian pemukiman di sepanjang garis tepi pantai. Metode ketiga adalah Metode Sosialisasi Tanggap Bencana. Pelatihan penyebaran informasi hingga simulasi bencana dan bagaimana mereka harus menyelamatkan diri, menuju Muster Point, perlu dibuatkan bangunan tahan gempa pada fasilitas-fasilitas penting seperti bandara, pelabuhan, airport dan pergudangan.
Metode-metode ini harus mulai di terapkan oleh pemerintah daerah dengan menerbitkan perda ketahanan bencana berdasarkan arahan peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana nomor 03 tahun 2012, kota Palu salah satu kota yang sudah memiliki peraturan daerah Nomor 5 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Saya mendengarkan cerita dosen saya pak Rahman Rasyid bagaimana Profesor mereka saat studi S3 di jepang, menghubungi mereka berkali-kali pasca bencana likuifaksi terjadi di kota Palu. Mereka bertanya apakah bisa mengundang mereka melakukan penelitian sebelum sisa-sisa likuifaksi hilang. Bagaimana gairah negara jepang yang terus berbenah untuk mendapatkan solusi dan pengetahuan lebih terhadap bencana yang sering mereka dapatkan. Kenapa kita tidak perduli dengan ilmu pengetahuan tersebut?
Apakah korban jiwa tidak menjadi pembelajaran untuk kewaspadaan kita di masa depan.
Kamis, 06 Desember 2018
Banjir dan program Revitalisasi Drainase besar besaran di Kota Balikpapan
![]() |
| jalan mt haryono yang terendam (google image) |
Saat ini kota balikpapan sudah berupaya maksimal dengan berbagai macam strategi untuk mengatasi berbagai macam bencana banjir ini agar segera teratasi. Kadang kita memiliki slogan yang agak naif yaitu " itu bukan banjir, hanya genangan air saja" . Bisa di pahami bahwa slogan tersebut muncul karena keputusasaan para pengelola kota terhadap banjir ini.
beberapa waktu lalu pemerintah kota balikpapan mengundang ahli banjir dari belanda, beberapa solusi mulai di terapkan dengan pemerintah kota ingin membebaskan lahan lahan yang berada di tepi sungai ampal, seperti pemukiman di jalan beller. revitalisasi kawasan gunung malang yang merupakan langganan banjir di permukaan jalannya sudah di lakukan saat ini. beberapa titik mengalami penggalian hingga diletakkan gorong gorong di sepanjang jalur hingga ke tepi pantai.
Revitalisasi sungai sangat baik jika kita berorientasi terhadap buangan air hujan ketika hujan lebat tiba. Mengenali titik titik genangan juga bisa menjadi masukan daerah daerah mana yang layak untuk di beri drainase baru.
Tetapi saya sedikit memberikan masukan, bahwa pemerintah kota juga bisa menerapkan dengan ketat mengenai kebijakan koefisien dasar bangunan dan koefisien luas bangunan agar setiap pemukiman atau rumah wajib memiliki daerah resapan. Rumah tidak seharusnya membuang air hujan yang jatuh di kavling mereka dengan segera ke riol kota,atau drainase.
Setiap hunian harus menyediakan tanah resapan berupa taman seluas sisa KDB yang di tetapkan di kawasan hunian tersebut. tidak boleh masyarakat membuat atap seluas kavling mereka, karena atap tersebut akan memberikan beban tambahan terhadap sistem riol kota sehingga meluap air ke permukaan jalan. akibat dari ketidak pahaman masyarakat tersebut membuat banjir menjadi sebuah komoditi tahunan yang tidak akan terselesaikan.
saya mengajak pembaca blog ini, atau masyarakat untuk memahami beban kerja pemerintah kota dengan memberikan hak kota berupa KDB untuk resapan, biarkan bumi kita menikmati tetesan air hujan demi anak cucu kita. (cieey...)
apakah kita menyadari sebagai masyarakat kota, bahwa kita juga berperan aktif terhadap potensi banjir tersebut.
Selasa, 02 Oktober 2018
Tanah Hak Milik Keturunan Pangeran Diponegoro di Kota Makassar
Saya berkesempatan mengunjungi situs situs bersejarah di kota Makassar berbarengan dengan aktivitas studi master saya dikota ini. kali ini saya mengunjungi tempat pemakaman keluarga Pangeran Diponegoro yang terletak dijalan Diponegoro Kota Makassar.
Lokasi permakaman ini adalah tanah yang diberikan oleh gubernur belanda setelah penangkapan Pangeran Diponegoro hingga wafat. Kita mengetahui bahwa Pangeran Diponegoro di tangkap dan diasingkan serta dipenjara di Benteng Rotterdam beserta anak istri dan pengikutnya. Para keluarga dan anak cucu mereka tidak ada yang diperbolehkan kembali ke Pulau Jawa sejak pengasingan tersebut.
Lokasi ini adalah hak dari keturunan Pangeran Diponegoro yang sempat saya temui sebagai juru kunci, beliau merupakan generasi ke lima dari keturunannya. Uniknya beliau tidak bisa berbahasa Jawa karena sudah tidak menerapkan tradisi Jawa.
Juru kunci ini juga telah diakui oleh kesultanah Mataran Yogyakarta sebagai keturunan kerajaan (lihat gambar pada instagram saya). beliau juga bercerita bagaimana lahan pemberian gubernur Belanda tersebut sudah tidak tersisa, karena legalitas dan desakan kepadatan permukiman pada kawasan Jalan Diponegoro ini.
Kita juga ingat bagaimana Calon Presiden Prabowo Subiakto mengatakan ingin memindahkan makam Pangeran Diponegoro ke Pulau Jawa ketanah leluhurnya yang lebih menghargai perjuangan melawan penjajah.
Rabu, 29 Agustus 2018
Kuliah Tamu "Smart City" di Kampus Pasca UnHas Makassar
![]() |
| foto bersama kolega |
Sabtu, 04 Agustus 2018
Lorong Unik Berdinding Drum Bekas Aspal di Kota Balikpapan
![]() |
| lorong yang memberikan fasade baru pada kawasan |
begini, penulis berpikiran bahwa menggunakan material bekas dari drum aspal menjadi sebuah dinding masif yang membatasi sebuah gudang dengan pemukiman bisa di katakana pengolahan industri berkelanjutan.
Bagaimana ya arah berpikir kita agar sebuah material yang sulit untuk di recycle kembali, karena aspal dan besi memang bukan kombinasi yang mudah untuk dipisahkan, perlu effort yang besar untuk mengolah ke material dasarnya. menggunakan material material yang memerlukan biaya besar untuk mengembalikannya kembali ke material dasar, bisa kita gantikan atau alih fungsi dari material tersebut menjadi sesuatu yang berkelanjutan tentunya.
filosofi berkelanjutan tujuannya bukan mengembalikan material yang sudah diolah menjadi berbagai macam fungsi kemudian di kembalikan ke material dasar , namun filosofi fungsi dari material tersebut harus berkelanjutan menjadi sesuatu yang lain, tanpa harus merusak alam lingkungan, sosial dan ekonomi.
Kebetulan tesis saya adalah indeks keberlanjutan, jadi saya paham benar mengenai arti keberlanjutan. kemudian keberlanjutan kawasan bisa di ukur jika alih fungsi material material yang tidak di reuse recycle tersebut terhadap lingkungan dan sosial? bisa tentu saja jika kawasan tersebut besar dan menyedot perhatian publik, maka perlu sebuah penelitian baru untuk merumuskan indeks keberlanjutan kawasan yang menggunakan material bekas.
okelah kita tutup artikel ini dengan menyebutkan kawasan yang baru saja saya lewati tersebut merupakan kecerdasan keberlanjutan kawasan, karena memfungsikan material ke fungsi lain yang lebih bermanfaat.
Artikel Terpopuler
- Mengenal Kawasan Industri Kariangau berdasarkan RTRW kota Balikpapan
- Kota Humanis sebagai wujud pendekatan fisik dalam perancangan kota efisien
- Perbedaan Antara Permukiman Kumuh dan Permukiman Liar
- Sistem Jalan Berbayar Elektronik di London
- Kenali Istilah "Massa Apung" di Dalam Lingkungan Masyarakat dan Involusi Perkotaan










