Cari Blog Ini

Minggu, 10 Februari 2019

Resolusi sebuah kota, menuju kota Balikpapan Beridentitas 2019

perdamaian dunia, sumber gambar


Sejak tahun 1968 Tanggal 1 januari, selain sebagai penanda mulainya perhitungan Kalender Gregorius , juga di peringatan sebagai “hari perdamaian sedunia”. Di dedikasikan oleh gereja katolik Roma Sebagai hari raya Santa Maria, bunda allah.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Resolusi merupakan keputusan atau kebulatan tekat atau pendapat yang dapat berupa permintaan atau tuntutan yang disepakati sebagai upaya atau tindakan terhadap suatu hal. 

Pada Awal tahun seperti sekarang kata kata “Resolusi” menjadi top keyword dalam Google trend, yang mana merupakan kata paling populer di gunakan sebagai pencarian dan  penggunaan.

Pemukiman yang padat, besar dan permanen, yang dihuni oleh orang-orang yang heterogen dalam kedudukan sosialnya menurut Louis Wirth adalah makna dari sebuat Kota. 

Undang Undang penataan ruang tahun no.26 tahun 2007, memaknai kawasan perkotaan adalah sebuah wilayah kegiatan utama bukan dari sektor pertanian, kemudian susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemusatan dan distribusi pelayanan jasa, sebagai permukiman, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

Kota Balikpapan yang memiliki populasi penduduk berjumlah 760.000,- menurut data BPS 2017. Jumlah penduduk ini masih berkembang di masa depan. Dan bisa saja berkurang dengan berkembangnya kota kota di Kalimantan timur seperti Samarinda, Sangata, Berau, Penajam. 

Beberapa kota tersebut sudah memiliki persiapan bandara udara yang menjadi daya tarik kota. kota Balikpapan memiliki jumlah populasi-nya yang merupakan tertinggi di kalimantan timur.

Kevin Lynch mempublikasikan sebuah teori pada tahun 1960-an. Teori Citra Kota yaitu sebuah teori yang merubah sudut pandangan perancangan kota mengutamakan orang yang hidup sebagai prioritas utama pembangunan. Beliau memandang pentingnya citra mental dari pola kehidupan masyarakat perkotaan ini akan memberikan perasaan yang kuat terhadap tempat-tempat yang lain dan tidak merasa tersesat.

Terdapat 3 komponen gambaran mental orang terhadap sebuah kawasan perkotaan, yaitu potensi Identitas, Potensi struktur, dan potensi Makna. identitas yang dimaksud adlaah orang dapat memahami gambaran perkotaan, kemudian maksuda dari potensi struktur artinya orang dapat melihatnpola perkotaanya dan potensi makna diartikan orang dapat mengalami ruang perkotaan.

Apakah kota Balikpapan sudah memiliki identitas seperti yang di maksudkan oleh Kevin Lynch? Kita sebagai masyarakat kota bisa menilai bagaimana identitas kota kita dengan menggunakan parameter dari teori Citra Kota tersebut.

Dengan komponen identitas kita bisa mulai menilai apakah ruang publik yang ada seperti Taman Bekapai, Taman 3 Generasi, Taman Adipura dan Taman Sepinggan Baru sudah memiliki identitas masyarakat yang ada di sekitar kawasan tersebut. Apakah pembangunan yang ada selama ini hanya copy paste dari pembangunan daerah lain, tanpa memperhatikan karakter dan identitas masyarakat sekitar kawasan tersebut.

Untuk komponen struktur apakah kota Balikpapan sesuai dengan pola pembangunan ter-rencana, kita bisa mengevaluasi bagaimana apakah mall dan supermarket berdekatan atau terdapat dalam satu kawasan.  Jika itu terjadi, pasti salah satu akan mengalami kemunduran kota. Kota harus sesuai dengan teori teori struktur kota.

Bagaimana dengan Komponen Makna? Kita bisa menilai apakah kota sudah menggali sumber-sumber daya kota, atau kebudayaan nusantara sehingga mudah memaknai kota ini. Atau simbol- simbol dalam masyarakat terlihat jelas Identitas Kota Balikpapan.

Akar dari identitas adalah budi luhur dari masyarakatnya, identitas mulai kita letakkan di atas
masyarakat, bukan pada bangunan atau ruang ruang pembangunan.

Mari kita mengisi resolusi 2019 untuk kota Balikpapan dengan menciptakan Identitas Masyarakat Kota yang sesuai dengan Slogan BERIMAN, bersih Indah Aman dan Nyaman.

Jumat, 01 Februari 2019

Singapura dan Daya Tampung Populasinya, Bagaimana Balikpapan?


Kota Singapura telah dipilih sebagai Kota Cerdas tahun 2018 di Kongres Dunia Expo Kota Cerdas untuk mengakui inisiatif dan proyek yang paling menonjol dalam industri inovasi dan transformasi perkotaan. Singapura tidak diragukan lagi telah menjadi suar global dari transformasi perkotaan dan bagaimana menerapkan solusi perkotaan pintar dengan cara yang bermakna yang tidak hanya meningkatkan fungsi kota tetapi juga meningkatkan layanan yang diberikan kepada warganya dan melalui mereka kualitas hidup."(www.smartcityexpo.com)


 Kota Balikpapan tidak perlu malu untuk meniru apa yang menjadi pencapaian Singapura. Kenapa saya membandingkan dengan Singapura sebagai pencapaian kota Balikpapan? Berikut alasannya, perbandingan kota Balikpapan dan kota Singapura dalam hal luasan daerah. Luas wilayah kota Balikpapan adalah 503.3km2 sedangkan Singapura memiliki luas wilayah 716km2. Dalam hal total jumlah penduduk kota Balikpapan memang kalah jauh berbanding 4.785.000. Namun tingkat kepadatan penduduk kota Singapura 7.697/km2, 6 kali lebih tinggi dari kemampuan kota Balikpapan mengelola lahannya 1.360/km2.

Saya simpulkan Pencapaian terbaik untuk Singapura adalah Kemampuan mengelola lahan seluas 1,5kali lebih luas dari Balikpapan namun menampung penduduk sebanyak 6 kali lipat.

Kita bisa meniru Singapura dengan mendirikan URA (Urban Redevelopment Authority), sebuah otoritas yang didirikan pada tahun 1974 , mengatur penggunaan lahan harus efisien dan di maksimalkan untuk mengurangi pemborosan lahan. Perencanaan penggunaan lahan menjadi tanggung jawab utama dari URA, bagaimana merencanakan penggunaan lahan strategis jangka panjang dan rencana jangka menengah yang di tinjau setiap lima hingga sepuluh tahun. Kontrol pembangunan juga menjadi salah satu peran dan tanggung jawab URA, mengevaluasi dan memberikan persetujuan perencanaan untuk proyek proyek pembangunan dari sektor publik dan swasta.

URA memberikan solusi untuk desain perkotaan Singapura , jika investor ingin membangun sesuatu, maka tinggal datang ke URA dan URA akan memberikan lahan yang sesuai dengan keinginan investor.

Paling menarik adalah Wewenang Konservasi Bangunan, URA memiliki rencana induk konservasi pada tahun 1989. Rencana tersebut adalah Pedoman dan Proses untuk Konservasi Bangunan yang penting secara budaya dan historis, hingga saat ini sudah ada 7000 bangunan yang di tetapkan sebagai bangunan yang di lestarikan.

Kemudian bagaimana Singapura mengelola penggunaan lahannya dengan efisien? Sebuah publikasi dari URA berjudul Planning for sustainable Singapura mungkin bisa menjawabnya. Dalam publikasi tersebut URA ada beberapa konsep dan master plan point penting yang bisa di tiru kota Balikpapan.

Konsep Pertama adalah Singapura Strategi Land Use dan Transportasi untuk memandu pengembangan untuk 40-50 tahun ke depan. Kedua terdapat review setiap 10 tahun, ketiga adalah kolaborasi antara pemerintah, publik, konsultan untuk menerjemahkan Strategi Jangka Panjang.

Masterplan pertama tercipta berupa status kepemilikan tanah harus sesuai dengan rencana pengembangan 10-15 tahun. Kedua koordinasi pengembangan dan penjualan tanah penyediaan infrastruktur dasar dan utilitas untuk berbagai bidang tanah untuk mendukung realisasi perencanaan intervensi yang diteteapkan dalam rencana induk. Terakhir kontrol pengembangan pedoman untuk memastikan semua sidat dikembangkan dan di gunakan sesuai dengan master rencana penggunaan lahan zoning, rasio luas bangunan dan mengontrol ketinggian bangunan.

Hasil dari konsep dan masterplan tersebut bisa kita nikmati sekarang, seperti : Sistem Penghijauan sejak tahun 1971, Reklamasi Marina Bay, Airport Changi, reklamasi pulau Jurong sebagai kawasan Industri kimia 1991, Pemetaaan area komersial pada tahun 1991, Peralihan menuju Hunian Vertikal pada tahun 1990, integrasi transportasi masal pada tahun 1987.

Perencanaan URA tersebut pada tahun 1971 bisa kita nikmati ketika kita berwisata atau transit sementara di Bandara Changi. Sebuah kota yang di rencanakan dan di eksekusi secara tertib sejak 1970. Ini adalah alasan bagaimana Singapura mampu menampung 5 juta penduduk untuk lahan yang hanya lebih besar satu setengah dari kota Balikpapan. Bagaimana Kota Balikpapan, apakah siap menampung penduduk 5 juta di kemudian hari?