Cari Blog Ini

Rabu, 06 Desember 2017

Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Kebudayaan Kemiskinan

Kebudayaan kemiskinan Sumber gambar


Seorang yang tidurnya di jalanan adalah seorang penghuni yang liar atau gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal atau rumah yang tetap." oleh Oscar Lewis.

Saya tulis ulang presentasi saya, di sekolah pasca Unhas, agar presentasi tersebut layak untuk di baca. berikut ini dalam format artikel yang saya beri judul "Kemiskinan di Perkotaan dan Kebudayaan Kemiskinan". 

Mengenali istilah Kebudayaan kemiskinan yang tertuang di buku Oscar Lewis sepertinya tidak akan kita pahami tanpa memberikan penerapannya dalam masyarakat. penulis mencoba mencari faktor pendukung tumbuhnya masyarakat kebudayaan kemiskinan. dan bagaimana istilah tersebut muncul ke permukaan sebagai sistem baku dalam masyarakat. 

Menurut Oscar Lewis ada enam faktor -faktor yang mempengaruhi kebudayaan kemiskinan berikut saya tulis berdasarkan pemahaman penulis terhadap konten. 

Pertama adalah sistem ekonomi uang, sebuah komunitas yang berbasis yang bertransaksi atau bersosialisasi yang selalu menggunakan sistem ekonomi uang akan membuat jenjang kemiskinan makin meluas, saya bandingkan dengan sistem kekeluargaan di desa di kampung ayah saya, Kota Tulungagung. Di desa itu hampir orang-orang usia lanjut tidak memiliki uang, mereka masih bisa bersosialisasi dengan sesama dalam bentuk lain. misalkan mereka sakit, berobat ke bidan , perawat hanya membawa hasil tanam, seperti pisang, beras. 

Kedua tingginya tingkat pengangguran terampil, saya asumsikan masyarakat yang tidak terampil maka akan menganggur, atau tidak memiliki pekerja sehingga tidak memiliki uang, sehingga mereka berpotensi sebagai masyarakat yang memiliki kebudayaan kemiskinan. 

Ketiga rendahnya upah buruh, di sebuah wilayah perkotaan atau pedesaan yang memiliki pendapatan daerahnya rendah, di Indonesia akan di subsidi oleh pemerintah pusat agar daerah tersebut bisa tumbuh secara makro perekonomiannya. Rendahnya upah buruh, karena daya beli masyarakat dan bisnis yang ada di daerah itu tidak tumbuh dari tahun ketahuan, sehingga pendapatan perusahaan tersebut tidak cukup untuk menggaji upah tinggi.

Keempat gagalnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi sosial, saya menangkap maksud dari Oscar Lewis adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan untuk berkumpul, menyuarakan pendapat, dan berorganisasi, cenderung memiliki tingkat penghasilan yang baik sehingga masyarakat berpenghasilan rendah kalo di Balikpapan bisa kita kasi contoh adalah UMKM tepi jalan, Petugas servis dan pekerja kontrak seharusnya memanfaatkan organisasi untuk meningkatkan penghasilannya. 

Kelima sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral, sistem keluarga bilateral hanya menjadikan ayah atau orang tua sebagai sumber pendapatan penghasilan, sedangkan unilateral lebih memiliki pendapatan tinggi karena mereka menerapkan sistem Klan atau kekerabatan. contohnya jika di kota Malang Jawa timur, sistem keluarga dalam usaha keripik khas Malang, anak, cucu, ipar hingga kakek nenek membatu penjualan keripik tersebut. 

Dan yang ke enam adalah kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan. kalo sistem ini memang menjadi sumber kesenjangan sosial di mana-mana, karena orang kaya lebih tinggi ilmu finansial knowledge -nya. Orang berkuasa pasti bisa memberikan tekanan terhadap masyarakat miskin di perkotaan dan pedesaan. 

Perbedaan antar kemiskinan dan kebudayaan kemiskinan, kebudayaan kemiskinan menunjukkan adanya suatu cara hidup bersama di alami oleh orang miskin. Orang miskin yang memiliki kesadaran kelas dan aktif dalam organisasi buruh, mereka tidak disebut kebudayaan kemiskinan , walaupun melarat. 

Contoh masyarakat berkebudayaan kemiskinan , masyarakat primitif (masyarakat Afrika), kebudayaan kasta /sistem klan masyarakat India, tradisi kasta masyarakat Yunani, negara sosialis (penduduk melarat namun mereka percaya pada pemimpin). 

Kampung jembel di perkotaan pertambahan penduduk dan penyerbuan daerah kota, meledaknya populasi penduduk dunia, lahan-lahan kosong berubah fungsi, banyaknya mulut yang perlu makan setiap harinya. tanah dan perumahan di lingkungan kota yang baru tanah di perkotaan telah di bagi- bagi menjadi petakan kecil, arus kaum pemukiman berbondong bondong masuk ke kota lebih cepat dari pada kesanggupan industri menampung tenaga kerja.

Tipe -tipe kampung jembel: 
  •  Perkampungan buruk permanen (masyarakat tidak berbuat apa apa), 
  •  dan perkampungan peralihan (masyarakat melakukan peralihan dari kehidupan gelandangan menuju tempat yang lebih baik. 
Pembuangan limbah dari perkampungan jembel, pembuangan tinja manusia di biarkan membusuk menimbulkan potensi penyebaran wabah penyakit. 

Kepadatan berlebihan di perkampungan jembel, tidak ada kebebasan pribadi, memudahkan tertular penyakit). Beberapa akibat sosial , kejahatan kaum remaja , rendahnya kesehatan , perlakuan asusila , gizi buruk) respons-respons pemerintah, memodifikasi kebijakan pemerintah merelokasi gubuk- gubuk kumuh kebijakan- kebijakan pembaharuan kota dan penggusuran perkampungan kumuh, pemisahan penduduk dari asal usul etnis mereka.

Senin, 04 Desember 2017

Kenali Istilah "Massa Apung" di Dalam Lingkungan Masyarakat dan Involusi Perkotaan



Suatu masyarakat kota sangat kompleks menurut ukuran kesukuan, pekerjaan serta kelompok-kelompok sosial. 

Inti masyarakat kota adalah masyarakat dengan pemukim jangka panjang yang mempunyai pekerjaan yang mantap dan stabil, golongan ini termasuk kalangan usahawan, pengusa industri kecil dan pegawai negeri. Inti ini dikelilingi oleh kelompok masyarakat dari sektor informal yan biasa disebut massa apung.

Ciri khas massa apung adalah mobilitas geografis dan pekerjaan mereka yang tinggi. Kaum pendatang musiman, para pekerja tak tetap dan orang-orang yang mencari pekerjaan, mereka yang tak punya tempat tinggal, tanpa atau dengan pendidikan rendah.

Istilah massa apung dipengaruhi oleh istilah yang sama yang digunakan oleh Hans-Dieter Evers untuk menyebut golongan miskin di Jakarta. Dalam konteks tersebut, Evers menyebut orang miskin di Jakarta yang sangat banyak jumlahnya itu sebagai orang-orang yang tidak memiliki orientasi tunggal, sangat disibukkan oleh kepentingan subsistensi ekonomi. Kondisi mereka yang miskin itu sangat rentan untuk dipergunakan oleh kelompok elit politik demi kepentingan politik tertentu karena kebutuhan ekonomi cepat mengakibatkan massa ini gampang dibawa ke arah tertentu oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Massa apung” tersebut terikat pada struktur administratif pemerintahan yang berfungsi dengan baik; ada kelompok-kelompok tetangga yang jalinannya sangat erat, perkumpulan kesukuan, kelompok-kelompok kerja serta kelompok-kelompok kekerabatan yang sangat tersebar tetapi efektif secara ekonomi.

Proses involusi kota diperkuat oleh modernisasi yang makin meningkat, yaitu berupa pembangunan besar-besaran dan pengeluaran pemerintah. Involusi kota merupakan perwujudan dari struktur keterbelakangan kota-kota sehingga menjadi kota sebagai pusat perubahan.